Powered by Blogger.
RSS
Container Icon

Makan Sushi Asli Negeri Sakura

Masih kulineran seputar Jepang nih :D. Untuk jenis makanan satu ini pasti sudah tidak asing lagi di telinga kita, yaa sushi. Akhir-akhir ini memang banyak tempat makan di Indonesia yang menawarkan menu spesial asal Negeri Sakura ini, dari restoran mahal sampai warung kaki lima pun ada. Berbagai macam harga juga banyak ditawarkan. Untuk restoran mahal biasanya bermain dengan harga, namun cita rasanya sesuai dengan harga yang ditawarkan (ono rego ono rupo) dan umumnya “penampakan” sushi-nya hampir sama dengan negara asalnya. Sedangkan sushi yang dijual di warung kaki lima tentunya memiliki harga yang lebih bersahabat dengan kantong namun rasanya juga gak kalah enak, ya walaupun terkadang “penampakan”-nya tidak 100% sama dengan aslinya (banyak modifikasi) karena pada umumnya sushi di Indonesia tentunya sudah disesuaikan dengan “lidah orang Indonesia”. Oke, cukup untuk pendahuluan. Kali ini, saya mau kulineran sushi di negara asalnya, ya Negara Jepang :).
Kebanyakan restoran sushi di Jepang menyajikan sushi dalam piring-piring kecil (biasanya berisi dua buah sushi) yang diletakkan berjalan bebas di tempat berjalan/ semacam kereta otomatis (haduh susah ngomongnya hehe). Jadi selama piring-piring sushi berjalan, konsumen bisa memilih sushi yang diinginkan, tinggal “comot” aja :D. Namun, jika sushi dengan neta/ lauk yang diinginkan tak kunjung datang, konsumen bisa memesan langsung melalui layar lcd yang ada di tiap meja. Dan biasanya sushi yang dipesan akan diantarkan langsung ke depan meja sang konsumen dengan menggunakan miniatur kereta shinkansen, yuhuuu bisa langsung dimakan tuh.
Piring-piring sushi berjalan
Layar lcd tempat memesan sushi
Miniatur kereta shinkansen pembawa sushi pesana

Kalau bisa dibilang “sushi asli” menurut saya ya sushi dengan neta (lauk) berupa ikan/ daging mentah. Karena rasa keingintahuan yang tinggi, namun tidak diimbangi dengan kesadaran diri bahwa lidah saya asli lidah Indonesia, jadinya ya saya tetep kepengin nyobain sushi dengan neta mentah (*loh). Ketika piring-piring sushi lewat, piring pertama yang saya ambil adalah sushi cumi mentah. Jreng-jreng, liat pertama kali bentuknya masih segar gitu, dan yang jelas kenyel-kenyel. Langsung deh saya lahap, HAP, daaannn....kalau dibilang rasanya biasa aja, kalau diibaratkan makan makanan ini seperti kita lagi motong daging ayam/ sapi mentah yang mau dimasak menggunakan pisau è ALOTTT!!! Huaaaa... ya sudah risiko saya mengambil makanan ini ya harus dihabiskan, untung cuma dua biji hihihi. Karena kapok makan yang mentah, akhirnya untuk piring-piring selanjutnya saya lebih memilih sushi dengan neta serba goreng saja. Saya nyobain udang goreng dan cumi (kalau gak salah :p). Kalau secara keseluruhan emang bumbunya kurang (kurang asin) saya bilang, tapi sepertinya memang hampir semua restoran sushi di Jepang menyajikan sushi dengan rasa yang sedikit “hambar”, karena makan sushi biasanya dengan cara “dicocol” atau dicelup di kecap asin yang disebut shoyu. Jadi kalau mau makan sushi yang nikmat, jangan lupa “dicocolin” ke shoyu :D.
Untuk masalah harga, satu piring sushi bisa dibanderol seharga 100¥-an ke atas, bergantung jenis lauk/ neta yang dipesan. Dan biasanya untuk melihat perbedaan harga dari masing-masing lauk adalah dengan melihat warna dan jenis piring yang digunakan. Misalnya saja semua sushi dengan warna piring kuning, harganya sama. Berbeda dengan sushi dengan piring berwarna merah, tergantung kita deh mau pilih sushi yang mana. Orang Jepang sendiri pada umumnya bisa menghabiskan ±8-10 piring sushi untuk sekali makan (saya lihat langsung orang-orang sekitar), tapi kalau saya cukup 5 piring saja sudah kenyang :9. Nah, ketika sudah selesai makan, kita tinggal pencet tombol yang ada di meja tiap konsumen lalu waiter/s akan segera datang ke meja kita dan menghitung banyaknya piring yang kita habiskan disesuaikan dengan warna dan jenis piring sushi tentunya. Lalu tinggal bayar deh ke kasirnya :D.  
Sushi dengan berbagai macam neta/ lauk
Piring-piring sushi yang kosong

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Mencicipi Kenyalnya Udon

Yak, postingan kali ini masih seputar kuliner jepang (kayaknya bulan Juni dipenuhi postingan seputar jalan-jalan ‘n makan-makan nih, yihaaa seneng-seneng deh kita di bulan Juni :D :D). Ok, back to the topic @,@. Makan-makan kuliner jepang kali ini saya nyobain udon. Udon ini masih temenan sama soba di postingan yang lalu, yaitu sejenis mie yang terbuat dari tepung terigu-sama seperti mie-mie pada umumnya, namun bedanya udon ini memiliki ukuran yang super duper tebal (lebay dikit :p). Ketebalan udon pun rupanya memiliki standar tertentu lhoo, seperti yang saya kutip dari wikipedia: “Sesuai standar JAS, udon berbentuk bulat seperti pipa harus berdiameter di atas 1,7 mm, sedangkan udon berbentuk pipih harus memiliki lebar di atas 1,7 mm”. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat ketebalan udon di bawah ini:
Fokus ke ukuran udonnya ya, jangan cewek cilik unyu dibelakangnya yang sadar kamera XD
Nah, waktu itu kami makan udon di restoran suatu pusat perbelanjaan di dekat stasiun Toyohashi. Tipe restorannya pesan di depan, bayar, baru makan. Untuk makan udon ini biasanya ditemani dengan gorengan-gorengan berbagai macam makanan laut seperti ikan, cumi, gurita, dsb, serta berbagai macam daging-dagingan. Oke karena kami datang berbondong-bondong (halah super lebay, cuma 6 orang aja kok, 3 orang bocah ‘n 3 orang dewasa hehehe), jadinya kami mengambil gorengannya cukup banyak (ikan dibuat semacam tempura, gurita, dll-LUPA :p). Oh iya untuk 1 mangkok* udon dihargai 105¥, sedangkan harga gorengan berkisar antara 120-130¥ (baru kali ini tau ada harga gorengan lebih mahal dari harga makanan utama :O-yaeyalah gorengannya aja seafood, bukan tahu-tempe :p)   
 1 porsi udon
Gorengan (gurita & semacam tempura)
                                
Oke deh, langsung icip-icip. Kalau untuk udonnya, kenyal banget (mungkin karena pengaruh ukurannya yang tebel juga kali yaa..), kuahnya kalau dimakan barengan sama udonnya jadi kurang berasa (kurang asin), padahal kuah yang dipakai sama dengan kuah yang dipakai dalam soba mie (bisa jadi pengaruh orang yang masak beda) . Kalau gorengannya agak kurang asin juga, malah cenderung agak manis (campuran manis-gurih gitu deh). Kalau kebanyakan makan gorengan ini saya jadi eneg hehehe. Jadi emang pas kalau dimakan barengan sama udonnya, rasa manis-gurihnya si gorengan dicampur sama rasa dari udonnya jadi rame rasanya (nano-nano donk rasanya manis-asam-asin, rame rasanya, *malah ngiklan -___-). Yah, kalau dinilai makanan ini not bad-lah buat dicobain :D (selera juga sih, gue kan bukan Pak Bondan yang jago menilai makanan hohohoho).
Yang saya underline dari restoran ini (hampir sama di beberapa restoran Jepang) adalah setiap selesai makan, kita membersihkan sendiri meja yang telah kita pakai dan mengembalikan nampan berisi mangkok dan gelas kosong ke tempat yang sudah disediakan. Jadi sebelum dan sesudah makan meja tetap bersih :D.
Mariii makan :9
Satu paket udon+gorengan

*perhatian: hati-hati mengucapkan kata “mangkok” di negara ini, karena kalau salah bilang “mangkuk” bisa dikira alat kelamin wanita (FYI aja :D) 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kulineran Masakan Italia di Jepang


Yak, masih kulineran nih di Jepang, tapi kuliner kali ini yang dicoba bukan kuliner Jepang, melainkan kuliner dari Itali hehehe, apakah itu? Yuhuuu pasta :9. Nama restoran italia ini adalah LOUSIANA MAMA, cukup unik yaa :).
Tempatnya bertemakan bar ala-ala barat kayak di film-film barat gitu, ada jendela-jendelanya, lampunya kuning temaram, tempat duduknya sofa tapi ada juga kursi kayu. Dapurnya terbuka, jadi kita bisa lihat si chef lagi muter-muterin adonan pizza pakai tangannya, unik deh.
Makanan yang ditawarkan kebanyakan pasta. Dan makanan yang dipesan adalah pizza dan spaghetti berkuah. Topping pizza yang dipesan adalah tuna, jagung, dan nanas kalau gak salah (maaf agak lupa :p). Roti pizzanya tipis dan terasa garing, spaghettinya juga enak, apalagi kuahnya, hmmm yummiiyyyy :9, ada potongan-potongan cabainya, namanya juga unik “Devil Arabiata”. Untuk harganya worth-lah sama rasanya, tapi lupa berapa :p
Dan untuk dessert-nya pesen kue yang tadinya dikira semacam potongan small cake, coz sekalian buat ngerayain ultahku ‘n ponakan, eh ternyata bentuknya kue yang ukurannya bener-bener small dan dimasukkan di dalam gelas-gelas kecil gitu, hahahaha. Yawes, dinikmatin dan disyukuri wae :D. Yah, overall, TOP dehh rasanya. Oh iya, satu yang disayangkan, gak ada saos sambaaalll >,<!!!



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Merasakan Nikmatnya Soba Panas dan Soba Dingin di Negara Asalnya

Kali ini saya ingin cerita jalan-jalan seputar kuliner Jepang nih. Kuliner di Jepang yang saya coba adalah mie soba/ soba mie. Bahan dasar soba mie berbeda dengan bahan dasar mie pada umumnya yang terbuat dari tepung terigu. Soba sendiri terbuat dari serealia gandum kuda (buckwheat), yaitu gandum yang tumbuh di daerah empat musim yang juga kaya serat, jadi soba mie sangat baik dikonsumsi bagi seseorang yang sedang menjalankan program diet maupun penderita diabetes (sumber: klik di sini). Soba mie tentunya berbeda dengan ramen, kalau ramen terbuat dari terigu dan biasanya kuah kaldu yang digunakan adalah kaldu babi. Jadi apabila Anda seorang muslim dan sedang berada di Negara Jepang, maka hindari makan ramen, mendingan makan ramen-ramenan yang ada di Indonesia, gak kalah enak kok :D.     
Untuk tempatnya sendiri, sama kalau kita sering nonton acara TV Champion yang disiarkan di salah satu stasiun televisi Indonesia (tapi sekarang acaranya udah gak ada L). Tempat masaknya berada di tengah, sedangkan para konsumen duduk mengelilingi tempat masaknya, jadi kita bisa lihat secara langsung proses masaknya. Tapi ada juga tempat duduk yang tidak menghadap tempat masak langsung, jadi terserah deh mau duduk dimana :D. Kalau saya dapatnya tempat duduk yang langsung menghadap tempat masak, jadi sedikit banyak bisa lihat proses masak mienya gimana :)).
Oke untuk menu soba mie yang dipesan ada dua macam, yaitu soba panas alias soba yang disajikan dengan kuah panas dan juga soba dingin atau soba yang disajikan dengan kuah dingin.


Untuk soba panas terdiri dari soba mie dengan kuah panas yang banyak (mie tercelup ke dalam kuah), ditaburi dengan irisan daun bawang dan disajikan terpisah dengan udang kremes (udang digoreng dengan telur dan tepung beras sehingga menghasilkan udang kremes), atau disebut juga “sakura ebi”. Di restoran ini, satu porsi soba panas dibanderol dengan harga sekitar 480¥. Nah, sedangkan untuk soba dingin terdiri dari soba mie dengan kuah dingin (kuahnya hanya sedikit), lobak tumbuk yang ditaburi irisan daun bawang, serta disajikan bersama dengan udang goreng kremes/ sakura ebi. Harga soba dingin sedikit lebih mahal dibandingkan soba panas, yaitu sekitar 580¥.
Untuk rasanaya, jujur sulit dijelaskan dengan kata-kata, hehe. Kenapa? Karena bahan yang digunakan memang jarang ada di Indonesia, jadi bumbu-bumbunya gak gitu ngerti deh. Kalau untuk kuahnya merupakan tsuyu sauce yang terbuat dari campuran dashi (semacam kaldu bubuk), dan soy sauce (kecap asin). Tuh ‘kan gak tau?? :p. Yang jelas MAKNYOS deh rasanya :9. Perbedaan antara soba panas dan soba dingin, tidak terlalu signifikan. Karena bumbu yang dipakai sama, jadi rasanya juga hampir sama. Soba dingin karena pakai kuah dingin, jadi mienya masih terasa kenyal (tidak lembek), sedangkan soba panas mienya agak lemes (bukan lembek ya) karena kesiram kuah yang panas. Yang jelas Untuk satu porsi soba mie cukup mengenyangkan perut, karena porsinya cukup besar dan banyak.   
Hal yang menarik ketika makan soba mie adalah saat akan menyeruput kuahnya sampai habis. Kalau di Indonesia, makan makanan yang berkuah ‘kan biasanya pakai sendok, kalau di negara Jepang, kuah dihabiskan dengan cara diseruput sambil memegang mangkok soba mie. Konon katanya, jika kita menyeruput kuah+mie sampai mengeluarkan suara, itu tandanya merupakan pujian bagi sang juru masak bahwa masakan yang dibuatnya enak. Wow, unik yaa ;). Ya walaupun tidak terbiasa, saya juga mencoba menyeruput kuahnya (tapi gak sampai mengeluarkan suara lhoo :p), lagian tidak disediakan sendok, hanya ada sumpit saja. So, untuk menghabiskan kuahnya tinggal diseruput aja :D.

Kita bisa “mengintip” proses masaknya :)
Itadakimasu (selamat makan)
Mencoba menyeruput kuahnya :9
Keterangan lebih lanjut tentang soba mie dari cara pembuatan, jenis, dan cara penyajian bisa klik di link ini.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Edisi Mbolang #4: Berbagai Kedongkolan Selama Perjalanan Malaysia-Osaka

Sumber: klik di sini

Yak, seperti janjiku di Edisi Mbolang #1, aku bakalan nyritain edisi mbolangku ke luar negeri. Negara yang dituju adalah JEPANG!! Yuhuu,, that was 2nd time I was there. Acara mbolang kali ini dikarenakan tugas yang harus ku-emban *halah :p. Yak langsung aja, dengan tiket promo dari Ai* As*a, tiket yang diperoleh mengatakan bahwa aku berangkat dari Bandara Adi Sumarmo Solo dulu (sayang tiket dari Jogjanya gak dapet, untung aja deket :) ), dilanjutin transit di Malaysia dulu, baru deh berangkat ke Jepang. Flight Solo-Malaysia adalah jam 09.00, sementara check-in untuk keberangkatan internasional biasanya 2 jam sebelumnya, alhasil berangkat dari Jogja jam 5 pagi *hoaamm*. Mandi pagi-pagi, solat subuh di rumah, dan berangkatlah ke Solo dianterin Mima, Distya, ‘n sopir kantor Mima :D. Sesampai di Adi Sumarmo, ternyata masih sepi nyenyet (sepi banget), *ngek, tapi yasudahlah, bisa foto-foto dulu dan gak terlalu kemrungsung :D.  Akhirnya jam 7 teng, langsunglah aku berpisah dengan para pengantarku *halah :p, dengan melambaikan tangan, akhirnya aku masuk ke dalam :). Setelah lewat security check, check-in deh ke dalam, oh iya ni maskapai penerbangan agak gak oke coz sesampainya di Malaysia buat transit, aku kudu keluar dari imigrasi-ambil bagasi sendiri-check in lagi-masuk imigrasi lagi-baru deh masuk ruang tunggu hadehh -____-“ (ya gapapa deh, promo ini :p). Dan yang tak dinanya-nanya lagi ternyata jatah bagasiku kelebihan 1 kg!! WHAT?? Malesin banget kudu ngudar-udari barang mindahin ke tas ransel mana cm 1 kg lagi,,, hahahahaha (gue stress :p). Yawes, dengan berbagai kegalauan selama menunggu pesawat take off, akhirnya masuk juga deh ke pesawat :D. Btw, selama perjalanan Solo-Malaysia gak ada cerita menarik sih, standar aja, hehe.
Sesampai di Malaysia, seperti yang dah kubilang sebelumnya, keluar imigrasi-ambil bagasi-check in-masuk imigrasi lagi-masuk deh ke ruang tunggu. Buset dah di Malaysia rada ketat pengamanannya, bawa air mineral aja gak boleh diminum langsung di tempat, tapi kudu keluar lagi dari security checknya -__-. Yah emang sih, kalo perjalanan luar negeri berbagai bentuk cairan, baik berupa minuman maupun apapun itu forbidden alias dilarang buat dibawa ke pesawat, biasanya cuma boleh berapa liter gitu, ya asal tau “tempat” pas bawanya. Bisa sebenernya nyolong2 bawa minuman hehehe *evil smile ;>.
Oke lah, sampailah masuk ruang tunggu. Krik-krik-krik, jarang ada orang Indonesia, banyakan orang Jepang yang mau balik ke negara asalnya kayaknya, ‘n beberapa orang Malaysia yang mau ke Jepang. Hmmm, mau SKSD tapi basa inggris pas-pasan, basa jepang apalagi, gak dong, ngertinya cuman Konnichiwa ma Arigatou doank hahahaha XD. Yaudah, nungguin boarding selama ±30 menit terasa hampa *lebayyy. Eh tapi tau-tau di menit-menit terakhir ada bapak-bapak separuh baya, ya sekitaran usia 50-an yang kalo diliat dari wajahnya adalah orang Jepang, tiba-tiba ngajakin ngobrol tapi dengan bahasa indonesia LANCARR!! WOW, saya tertipu hahahaha. Mana kutanyain asalnya darimana, ngakunya dari Bali dan katanya gak ada keturunan Jepang sama sekali. Tapi aku tetep gak percaya ma tu bapak, dan akhirnya setelah agak aku jok-joki (alias sedikit memaksa) akhirnya bapaknya ngaku, “ya ada keturunan Jepang sedikitlah mbak”. Finally pak,pak, mau ngaku jugaa hahaha *menangg *\^,^/*.  
Setibanya di atas pesawat, perjalanan Malaysia-Osaka berangkat pukul 15.00 waktu Malaysia dan sampai di Osaka pukul 22.30 waktu Jepang. Selama di pesawat sungguh deh, boseenn banget rasanya,, tidur gak ngantuk, baca majalah udah selese dibaca, mau ngobrol ma sebelah mpe udah keabisan bahan obrolan, ngek-ngok deh kalo perjalanan sore-malem, palagi liat jam ternyata masih jam segitu-gitu aja lagi karna jam juga blom disetting ke waktu setempat juga, jadi berasa lamaaaaa bangeet tu perjalanan -___-“. Yah sudah, dinikmatin aja deh.
Dan akhirnya tiba juga di Osaka International Airport (Thanks God, Alhamdulillah ya Allah,,, :))). Tapi tunggu dulu keempetan (kedongkolan) blom berakhir sampai disitu...T__T, apalagi cobaaa???,,Pas mau masuk imigrasi Jepang, kan kudu ngisi embarkation card, nah biasanya maskapai yang aku tumpangi itu (2nd time ini) suka bagi-bagi embarkation card ‘n semacam kartu bebas kriminal gitu deh di dalem pesawat, nah tapi waktu itu di pesawat aku gak dikasih. Dan usut punya usut ternyata ceritanya begini è flashback waktu di pesawat. Mas-mas sebelah kananku (orang Malaysia) waktu dikasih embarkation card ma kartu bebas kriminalnya sama mbak-mbak pramugari, ternyata dia MENOLAK, entah dengan alasaan apa. Dan waktu itu aku liyer-liyer setengah sadar waktu mbaknya ngasih ntu kartu, jadi menurutku karena si mas-mas orang Malaysia sebelahku dikirain mbak pramugarinya “satu paket” ma aku (kayaknya pengaruh serupa wajah ASIA kali yaa..) dan alhasil aku juga gak dapet ntu kartu. Hal itu terbukti karena sebelah kiriku yang orang Jepang dikasih tu kartu huaaaa... si masnya plisss dehhh @______@.
Back lagi kita :D. Finally jadinya pas mau masuk imigrasi kudu ngisi embarkation card dulu, baru deh ngantri mau masuk imigrasi.. Dan parahnya lagi, ditanyain macem-macem lagi ma petugas embarkasinya, kenapa di Jepang lama banget (ambil visa buat stay di Jepang yang 90 hari, tapi cuma kepake 35 hari aja, coz adanya yang 15 hari ‘n 90 hari), padahal statusku adalah “employee” (status palsu,hehehe), mau ngapain, dll. Tapi untungnya dia mengerti dengan berbagai alasan yang kubuat (tapi ini gak bohong lhoo :D). Akhirnya pun aku keluar imigrasi dengan selamat :D.
Yak, sekian dulu cerita Mbolang di luar negeri. Sampai jumpa di edisi mbolang berikutnya...Semoga aja ada acara mbolang-mbolang keluar negeri lainnya ^,~b. Aamiin ya robbal’alamiin. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Suatu Sore @Miyuki Kouen, Berimajinasi Seperti dalam Film Doraemon :)

Miyuki Kouen
Rabu, 22 Mei 2013. Walaupun waktu telah menunjukkan pukul 18.30, tapi langit di Miyuki Kouen (baca: Koeng means taman) masih tampak putih-kebiruan, yang menunjukkan hari masih sore. Padahal kalau di Indonesia (Yogyakarta khususnya red.), jam segini langit sudah mulai gelap dan waktu memasuki Sholat Isya sebentar lagi tiba. Berbeda di Toyohashi ini, bahkan pukul 19.00-an waktu Sholat Magrib baru masuk :) (tergantung musim juga sih, saat ini sedang musim panas).
Miyuki Kouen merupakan Taman Kota yang cukup luas, para warga Jepang biasanya menggunakan taman ini untuk jogging, jalan-jalan bersama hewan peliharaan (biasanya anjing), maupun sekedar bermain di taman bermain anak. Yang menarik di sini adalah masih adanya taman kota untuk bersantai sejenak dari kesibukan pekerjaan maupun sekolah, bahkan lagi hampir di setiap perumahan, pasti ada taman untuk bermain anak atau sekedar untuk bersantai (ya kalau suka nonton film kartun jepang, seperti Detective Conan atau Doraemon, pasti ada scene yang ada tamannya karena memang begitu adanya :D). Kalau di Miyuki Kouen ini memang super gede tamannya, ada taman bermain anaknya, ada jam gedenya (mirip Bigben tapi pendek :p), ada jembatan yang juga gede, dan yang eye catching adalah ada semacam bukit atau bisa dibilang gundukan kecil yang menjorok ke bawah (berarti bukan bukit juga ya :p) dan di ujungnya terhampar sungai yang cukup besar, kalau saya membayangkannya seperti sedang nonton film Doraemon waktu Nobita c.s. sedang bermain di tepi sungai saat senja tiba, tapi bedanya ini saya yang ada di film tersebut, hehehe. Jadi kita bisa lihat sunset disana  (just my imagination *,* fufufufu). Sayangnya kami sudah beranjak pulang sebelum hari gelap.   
Gundukan kecil seperti di film Doraemon yang menjorok ke bawah, ke arah sungai
Taman di film Doraemon yang dimaksud :D, agak susah cari scene dengan tempat yang dimaksud.
Sumber gambar: klik di sini
Jam gede mirip jam Bigben, tapi pendek :p
Suasana sore hari 
Meskipun waktu telah menunjukkan pukul 18.50, namun langit masih tampak cerah

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Edisi Mbolang #3: Dari Economy Class ke VIP Class

Yiiihaaaa,, welcome to edisi Mbolang #3. Keharusan mbolang yang ke-3 ini adalah karna aku mau ngurus visa di ibukota negara tercinta, Jakarta hohoho. Visa? Visa kemana? Visa ke Jepang donks ehehe, Alhamdulillah dapet kesempatan kedua mengunjungi negara ini :D, dengan misi yang berbeda. Kalo tahun lalu emang misi jalan-jalan sih, tapi tahun ini aku dapet misi bertugas selama 1 bulan buat ngurusin ponakan-ponakan, *yaa itung-itung belajar jadi ibu rumah tangga sih, toh juga mumpung lom kerja ini (di Edisi Mbolang #2 sebenernya aku dah ketrima di perusahaaan ritel tersebut, tapi karna ada kejadian yang benar-benar di luar kemampuanku, akhirnya kesempatan untuk bekerja harus “ditunda dulu”, toh aku yakin kalo Allah memberikan suatu keadaan pasti ada hikmah dibaliknya, yaa mungkin bisa ke Jepang lagi salah satunya :D).
Oke, transportasi yang aku gunain dalam perjalanan Yogya-Jakarta kali ini adalah pesawat terbang *mumpung dibayarin sama Pakde, ya tetep cari yang promo, economy class :p. Jujur aja, ya walaupun udah beberapa kali naik pesawat, tapi biasanya ‘kan sama ortu, kakak, dll. Jadi aku gatau urutan dari check in nyampe boarding tu ngapain aja karna semuanya dah diurus ma mereka, hahaha, so, ibuku ngejelasin deh urutan-urutannya aku harus ngapain. Akhirnya waktu boarding pun datang, aku pun segera masuk ke pesawat. Kalo di boarding pass sih aku dapetnya tempat duduk di sebelah jendela. Tapi sesampai di dalam pesawat, tempat dudukku dah ditempatin ma dua orang mbak-mbak :O,, mana yang bikin empet ‘n sebel lagi adalah kabin jatahku naro barang udah dipake semua, there’s no place for me at all :O. Mana aku bawa ransel gede + oleh-oleh ayam goreng yang juga segede gaban lagi *hahaha lebay kalo ini :p*. Dan akhirnya aku duduk di pinggir sambil nggrundel-nggrundel sendiri sama mbak-mbak di sebelahku #@#!!! Eh yang gak disangka-sangka... tiba-tiba ada mas-mas petugas bandara yang nanyain aku sama penumpang kursi seberangku, “Mbak, sendirian ato rombongan? Mau pindah duduk di depan?”. Hmm.. yaudah aku jawab aja “Mau”, daripada nggrundel-nggrundel gak jelas sama mbak-mbak ini selama 1 jam perjalanan Yogya-Jakarta, mending aku pindah, sapa tau tempat di depan lebih nyaman ‘n yang penting dapet jatah kabin yang gede buat naro tasku ini. Dan ternyataaaa...jreng-jreng-jreng. Aku gak hanya dapet tempat yang NYAMAN tapi NYAMAN BANGET & SUPER NYAMAN. Gimana enggak, yang tadinya aku dapet di economy class, tiba-tiba aku dapet jatah yang VIP class, yuhuuu...Allah emang Maha Adil, Alhamdulillah J. Tempat duduk luas, terbatas, ada tempat pijakan kaki, kabinnya super gede *nyampe turah-turah :p, dsb. Hukum sebab-akibat tetep berlaku kawan J. Dan lucunya lagi sehari sebelum keberangkatan aku ma ibuku emang ngebahas tentang VIP class di pesawat, kalo kata ibuku, “Itu lho yang tempat duduknya di depan sendiri, yang luas, yang gede” :D. Eh taunya aku sendiri ngerasain J. Dan perjalanan 1 jam itu pun kuhabiskan dengan nyaman dan santai. Alhamdulillah J.

Foto-foto sebelum tak off ehehehe :E

Thank you to mas-mas petugas bandara yang kasih option yg oke punya J

 Nb.:
Tips mbolang #3 è jangan suka ngambil ‘jatah’ orang lain demi keegoisan diri sendiri, inget hukum sebab-akibat J
Jangan takut untuk mbolang sendirian, yang penting berani, pede, ‘n jangan malu bertanya kalo emang lom tau apa-apa. Toh yang tadinya kita gak tau, kita jadi bakalan tau :D.

Lihat sebelumnya: Edisi Mbolang #2

Lihat selanjutnya: Edisi Mbolang #4

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Edisi Mbolang #2: Bandung Uyee

Yuhuuyy edisi Mbolang ke-2 nih. Dan ini terjadi karena keharusan jobseeker. Okay, mbolang ke-2 ini aku ke Bandung untuk alasan tes final di sebuah perusahaan ritel di sana. Ibu HRD nelpon aku hari Jumatnya, dan tes dilakukan untuk hari Senin, dan seperti biasa, aku langsung gelagapan kudu gimana haha, yaudah saat itu aku langsung telpon ibuku buat tanya pendapat beliau. Dan beliau pun langsung membolehkan aku pergi ke sana. Waktu itu aku berpikiran ongkos transportasi ditanggung perusahaan, jadi kalo mau tes kesana juga gak rugi, toh duitnya juga diganti, ya maklum masih pengangguran, walaupun masih dikasih uang jajan, tapi kan mahal ‘n eman-eman kalo buat transportasi Yogya-Bandung :E. Akhirnya siang hari sebelum juma’tan aku pun segera ke Stasiun Lempuyangan untuk membeli tiket kereta api yang murah (ekonomi wae ngirit hehehe), tentunya setelah tanya teman SMA yang sudah bekerja di Bandung kudu naik jurusan apa, biayanya berapa, ntar turun dimana, dll. Btw aku sekalian beli tiket PP biar gak usah pake acara nginep-nginep segala ntar ndak ngrepotin (ya walopun ada temen ‘n sodara yang di Bandung).
Hari minggu malem sekitar jam 08.00 aku berangkat dari Stasiun Lempuyangan, memang perjalanan malam adalah yang paling enak, gak bakal “capek” selama perjalanan karna waktu dihabiskan untuk tidur :3. Ohya, hal yang gak disangka-sangka dalam perjalanan Mbolang #2 ini adalah aku ketemu temen SMA-ku yang juga mau tes di Bandung juga, dia bersama dengan seorang temannya, yah beda perusahaan sih, tapi tujuan utamanya sama è Bandung :D. Wow how small this world ;9!! Dan lucunya lagi kami ada di satu gerbong dan hanya berjarak beberapa kursi saja satu sama lain :D. Hahaha, Alhamdulillah deh, agak tenang J.
Sekitar pukul 6/7 pagi kereta kami pun sampai, aku dan temanku turun di stasiun yang sama, yaitu Stasiun Kiaracondong. Karena jadwal tes di perusahaan ritel baru jam 10, aku pun siap-siap cuci muka, berganti pakaian, dan lain sebagainya. Clingg, dalam beberapa menit aku pun siap untuk melaksanakan tes di perusahaan ritel yang letaknya di jalan Sunda J. Memang sebelumnya aku dah minta tolong temen SMA-ku (Dyah) yang kerja di Bandung buat nganterin ke perusahaan itu (soalnya kalo naik angkot dll katanya susah dan bingung ngejelasin coz banyak jalan satu arah, dll), ya agak ngrepotin karna Dyah harus telat ngantor, (Thanks a lot Diy ^_^) dan sepulang dari tes pun Dyah juga nawarin aku buat istirahat di mess tempatnya tinggal, lagi-lagi thanks a lot buat Dyah, dan masih mau njemput aku juga buat nganterin ke messnya (tapi untungnya pas jam istirahat sih, jadinya ya agak ayem ma Dyah hehehe).
Selama menunggu jemputan Dyah seusai tes, Om-ku (Om Ujang) yang tinggal di Bandung pun bbm aku nyuruh mampir ke rumah beliau, tapi aku dah telanjur minta tolong Dyah sih, yasudah akhirnya biar adil, selama siang-sore aku “ngendon” di mess Dyah, terus sorenya Om Ujang jemput deh ke mess Dyah menuju rumah beliau. Lucunya lagi, mess tempat Dyah tinggal tu deket sama rumah temen anak Om Ujang, si Fahri, padahal awalnya Si Om bingung nyari-nyari mess Dyah ^0^. Setelah mengobrol panjang-lebar and say thanks ke Dyah, akhirnya aku dan Om Ujang pun pergi menuju rumah beliau.
Istirahat sebentar di rumah Om Ujang, mandi, makan, akhirnya aku pun pulang ke Yogya malem itu juga dengan dianter Om Ujang ke stasiun yang sama. Okee, di sini dulu kisah Mbolang #2 ku di Bandung. See you next time Bandung, see you at edisi Mbolang-mbolang selanjutnya :D.

Stasiun Kiaracondong

Thank you to Dyah, & Om Ujang yang udah memberi tempat berteduh ‘n nganterin J

 Nb.:
Tips mbolang #2 è masih sama kaya Tips mbolang #1, cari kenalan sebanyak-banyaknya pas di tempat tes, keuntungannya: jalin silaturahmi, dapet link, dapet temen baru, yang penting tetep keep contact satu sama lain.
Jangan sungkan buat minta tolong temen atau sahabat atau sodara yang ada di tempat tersebut, ya asal jangan kebangetan deh ehehehe, tau diri deh pokoknya J. Dan yang penting jangan lupa tawarin pertolongan balik kalo temen tersebut lagi butuh bantuan, ‘n jangan cuma “pas butuh” aja baru kontak-kontakan huhuyy, jalin silaturahmi terus setiap saat, setiap ada kesempatan. Yakin deh sama hukum sebab-akibat :D.

Lihat sebelumnya: Edisi Mbolang #1
Lihat selanjutnya: Edisi Mbolang #3

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Edisi Mbolang #1: Awal yang 'Agak Mengenaskan', Tapi Berakhir Bahagia

Yeyeyeye, aku mau cerita tentang seputar “mbolang”-ku ke beberapa tempat ah (p.s. mbolang means ‘mbocah petualang’ bukan bocah ilang yaa XD), kenapa aku pengen cerita? Karena jujur aja aku jarannggg banget pergi sendirian, terutama ke luar kota. Kalo pergi dalam kota sendirian mah dah biasa ya, tapi ini keluar kota dengan urusan tertentu coy, oh ya ada kisahku tentang ‘mbolang’ ke luar negeri lhoo, tunggu aja kelanjutannya (hahaha pede banget kaya ada yang ngikutin :p, gapapa deh pede daripada minder hahaha).
 Oke deh, langsung aja, cerita mbolang-ku yang pertama berawal dari undangan tes awal sebuah perusahaan kosmetik yang dilangsungkan di UNS, Solo. Kami bertiga (aku, Nida, Akhir) yang diundang untuk melaksanakan tes awal ini, tapi sayangnya jadwal kami berbeda. Nida dan Akhir punya jadwal tes yang sama, sedangkan aku hanya sendirian di hari yang berbeda pula, namun keuntungannya adalah: mereka berdua dapat jadwal tes duluan, jadi kalau aku mau tes di hari berikutnya bisa tanya-tanya harus naik apa, turun dimana, dan lain sebagainya.
Berbekal informasi dari Nida dan Akhir, keberanian, dan duit seadanya, akhirnya aku pun berangkat ke Solo menggunakan KRL Sri Wedari pukul 05.15* (jadwal kereta bisa dilihat di foto bawah). Aku sengaja menggunakan kereta pagi karena jadwal tes awal adalah jam 08.00, sedangkan kereta Yogya-Solo sebelum jam 08.00 adalah jam 05.15. Oke deh, pagi-pagi udah mandi, masih agak ngantuk ‘n dingin, tapi aku harus berangkat. Sesampai di stasiun Lempuyangan (stasiun terdekat dari rumahku), aku langsung parkir motor (motor ditinggal di stasiun) dan segera membeli tiket KRL tujuan Yogya-Solo seharga 20.000 rupiah. Perjalanan selama ±1 jam aku habiskan dengan bermain game di hape dan mendengarkan mbak-mbak di depanku yang lagi digodain mas-mas geje yang kayaknya kenalan mbaknya pas di kereta juga di hari-hari sebelumnya (jadi mbaknya udah sering digodain gitu hahaha), aku-nya sih cuek-cuek aja.
Akhirnya, tiba juga di Stasiun Balapan *nyanyi lagu Didi Kempot è Stasiun Balapan* XD. Setibanya disana aku langsung naik bus Atmo menuju UNS (satu kali perjalanan aja langsung nyampe, harga sekitar 3000 rupiah). Kata Nida, aku bisa langsung naik bis kampus menuju Fak. Psikologi (kalo ga salah tempat tesnya di Fak. Psikologi, lupa sih hehe), tapi ternyata bis kampus yang ditunggu-tunggu gak dateng-dateng, akhirnya aku langsung tanya-tanya ma pak satpam dimana letak Fak. Psikologi berada. Dan ternyata letaknya cukup jauh dari tempat kuberdiri saat itu. Dan si pak satpam emang menyarankan untuk naik bis kampus, namun sayangnya bis kampus kalo pagi-pagi banget lom dateng (padahal ya itu dah jam 7an, mahasiswa/i juga dah rame pada mau kuliah -___-“). Dan akhirnya daripada nungguin bis kampus yang gatau kapan datengnya, ‘n daripada aku telat masuk tesnya, yasudahlah kuputuskan untuk berjalan kaki sambil menikmati pemandangan kampus UNS pagi itu (toh masih pagi juga, itung-itung olahraga lah). Dan setibanya di Fak. Psikologi, keadaan di sana masih sepi nyenyet, yawes terpaksa nunggu hingga waktu tes dimulai.
Tes yang berjalan ±2,5 jam, akhirnya selesai juga sekitar pukul 11, dan aku inget kalo jadwal KRL terdekat adalah jam 11.30, waaa berarti aku harus sampai stasiun sebelum jam 11.30 :O. Oh iya pas tes aku dapet kenalan anak UNS, namanya Angga, kami sempet tuker-tukeran nomer hp juga, siapa tau suatu saat kami bisa saling bertukar informasi. Nah ngliat jarak Fak. Psikologi ke kampus bagian depan aja udah jauh, mana bis kampus ga nongol-nongol lagi, aku coba sms Angga siapa tau bisa minta tolong nganterin ke stasiun, yah at least nyampe depan kampus lah sampai aku bisa naik bis Atmo menuju stasiun. Dan ternyata Angga udah ditebengin temennya, walhasil nunggulah aku bis kampus nyampe dateng padahal waktu itu hati dah gak tenang banget kalo keretanya dah lewat gimana, coz jadwal kereta berikutnya adalah jam 15.00 (busset dah mau ngapain aku nunggu 3 jam yangg gak jelas itu huhuu). Akhirnya bis kampus pun dateng juga, cuzz untungnya bis Atmo langsung udah ada lagi ngetem, jadi ga perlu nunggu-nunggu lagi. Daaann, sesampainya di stasiun aku cepet-cepet lari dengan buru-buru karena dari depan stasiun udah kedengeran kalo kereta Pramex tujuan Solo-Yogya udah dateng... Jreng-jreng-jreng sesampainya di depan loket, si penjual tiket bilang, “Wah mbak, beli yang jadwal berikutnya aja yaa, ini keretanya barusan aja berangkat” WHATT???!!! Berarti kudu nunggu 3 jam-an lagi, sendiri, mau ngapain coba? Fiuuhh,, sambil sms temen2 yang ada di Solo, bbm-an sama kakak, pikiran-pikiran ‘mau ngapain’, ‘ntar gimana’ pun bermunculan. Dan ternyata temen-temenku di Solo lagi pada sibuk, “what a mess!!” Trus akhirnya pas bbm-an ma kakak, dia bilang suruh naik bis aja daripada nunggu 3 jam yang gak jelas itu. Ok deh, akhirnya kuputuskan untuk naik bis, tapi kudu tanya-tanya orang dulu terminal dimana, kudu naik apa kesono, dsb. Clingak-clinguk liat kanan-kiri kira-kira sapa yang bakal aku tanyain. Akhirnya kuputuskan tanya ibu-ibu di sebelah kiriku (hmm first impression ke ibu ini kayaknya serem ‘n gak ramah) eh, ternyata pikiranku 100% salah. Ibunya super baek banget ngasih tau aku kudu naik apa ke terminal, bayarnya berapa, dll (ibunya ternyata orang jogja juga yang gak tega liat sesama orang jogja juga kesasar, coz beberapa waktu yang lalu ibunya cuma bisa terdiam ngliat seorang anak jogja yang di”kesasarin” ma tukang ojek biar ongkosnya mahal, padahal bisa lebih murah kalo ga di”sasarin” ma tu tukang ojek, heleh-helehhh.... Alhamdulillah deh kalo gitu. Tengs deh buat ibu itu *hmm huruf depannya kalo gak salah Bu S.. (haduh lupa,, maaf buu).
Dan mbolangku hari itu diakhiri dengan sampainya aku di rumah eyangku dengan selamat hehehe. See you di mbolang-mbolang selanjutnyaa yaa hohoho ^0^      
Jadwal Keberangkatan Kereta

Thank you to Bu S, Akhir, Nida, Angga J


Nb.:
Tips mbolang #1 è cari informasi sebanyak-banyaknya tentang jadwal kereta, bus, angkot, berapa duit habisnya, tujuannya kemana, bisa dari teman yang udah pernah ke sana sebelumnya, atau teman yang emang tinggal di daerah tersebut, kalo gak juga bisa googling cari-cari informasi, make gps, dll.
Cari kenalan sebanyak-banyaknya, (terutama saat tes) kalo perlu tuker-tukeran no.hape, twitter, fesbuk, dll. Yakin, suatu saat pasti bermanfaat apakah untuk saling bertukar informasi tentang perusahaan yang bersangkutan atau ada tes perusahaan lain, ato siapa tau dapet jodoh XD (pengalaman saya, saat dapet kenalan kami saling bertukar informasi tentang tes yang ada di kota masing-masing, share pengalaman, dll, itu pun masih berlangsung sampai saaat ini J). Yang penting di sini adalah tetep terjalin silaturahmi J.  
Hati-hati n’ waspada ma orang yang baru dikenal itu perlu, tapi juga jangan berlebihan, seperlunya aja. Kalo lom kenal banget, jangan mau dikasih makanan ato minuman, ya antisipasi aja sih. Semoga bermanfaat :D.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Mengintip Kehidupan jepang #2: Fast food McD di Jepang Seperti apa sih??

Yeyy weekend!! (another weekend chance in Japan 2013:) Sehabis jalan-jalan dari toko sepatu, saatnya makan siang (ngemil dink hehehe, coz sampai di rumah masih makan lagi :P). Kakak saya memilih restoran fast food alias restoran cepat saji yang terkenal hampir di seluruh dunia hohoho, yak McD. Ya walaupun di Indonesia juga ada, tapi makan di sini juga kudu hati-hati, terutama dalam hal “daging-dagingan” (baik daging ayam atau daging sapi). Karena ini bukan negara muslim, jadinya peminimalisiran cara pemotongan daging yang mungkin tidak halal (tidak mengucapkan basmallah) harus oke, hehehe. Akhirnya kami memesan fillet o’fish, french fries, dan cola. Hmm, dimana-mana sama sih rasanya McD ini, tapi karena di Indonesia saya belum pernah membeli fillet o’fish, jadi ya rasanya “agak baru” di lidah. Kalau kentang ‘n cola tentunya sama ya rasanya :9. Satu hal lagi, kalau kita mau mencari saos sambal di sini pasti tidak ada, karena yang ada hanya saos tomat saja. Hal ini dikarenakan orang Jepang yang tidak suka pedas (Waaa... padahal makan kentang goreng paling enak pakai saos sambal :D) .
Nah hal yang ingin saya highlight-kan itu justru setelah makan makanan ini. Setelah selesai makan, ‘kan tu ada bekas bungkusan burger, kentang, cola, dll. Nah, setelah selesai makan, saya harus memisahkan sampah-sampah tersebut sesuai jenisnya, jadi saya sendiri yang mbuang tu sampah sesuai jenisnya masing-masing. Tempat khusus membuang sedotan, tutup minuman, bungkus kentang, dan lain sebagainya memang dipisah sendiri-sendiri sesuai jenisnya dan semua itu ya kita yang nglakuin sendiri. Lagi-lagi kesih jempol deh buat negara ini, mandirinya super banget deh. Jadi emang tugas waiter/s -nya cuma ngelap-ngelap meja sama nganterin pesanan yang belum diambil (ya mungkin pesanan makanan yang butuh waktu untuk dimakan saat panas-panas atau sejenisnya). That’s it! Jadi itung-itung kita mbantuin kerjaan waiter/s-nya. :3 :3     
Burger Filet ‘o fish dan french fries yang sudah dikeluarkan dari wadahnya
Hanya ada saos tomat saja :/
Sisa bungkus makanan dan minuman yang siap dipisahkan
Tempat pembuangan sampah sesuai jenisnya

Lihat sebelumnya di "Mengintip" Kehidupan Jepang

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...