Powered by Blogger.
RSS
Container Icon

Europe Day 10.05.13



Hari Jumat lalu tanggal 10 Mei 2013, sekitar pukul 13.00 hingga pukul 17.00, Pusat Studi Jerman UGM yang bekerja sama dengan Kedutaan Besar Jerman mengadakan “EUROPE DAY”. Saya tahu acara ini juga karena diajak teman saya, Ledy untuk ikutan acara ini. Saya pun ke sini bersama Distya :D. Sebenarnya sekitar pukul 13.00 ada opening ceremony-nya, tapi karena saya ada urusan terlebih dahulu akhirnya kami baru sampai tempatnya sekitar pukul 2 siang.
Pertama kali masuk kami harus mengisi daftar isi terlebih dahulu, kemudian kami diberi nomor undian doorprize untuk diundi di akhir acara. Lalu kami berkeliling ke beberapa stand, ada stand dari berbagai negara seperti negara Jerman, Belanda, Perancis, Belgia, dan Skandinavia. Semua stand tampak menarik, ada stand yang menyajikan makanan khas asal negaranya, pemutaran film, sewa kostum+foto session, ada juga yang menyajikan buku bacaan tentang kebudayaan dan negara yang bersangkutan. Setelah membaca beberapa buku bacaan (mungkin lebih tepatnya melihat, karena buku yang bersangkutan berbahasa asing –>Jerman, Belanda, dll :p), kami langsung ke stand foto session yang disponsori oleh shoot&print photo instant. Dengan membayar 10 ribu rupiah, kita bisa menyewa kostum + foto untuk 1x jepret. Puas befoto-foto, kami langsung mencicipi makanan khas Negara Jerman yaitu “apfel kuchen mit ais” (baca: apfel kuhen mit ais -> yah kalau diartikan kue apel dengan es krim) seharga 7 ribu rupiah saja. Rasanya enak dan unik, ada rasa sedikit asam dari apelnya, dan manis + renyah dari kuenya, + dingin juga karena pakai es krim rasa pisang *pakai es krim komersial*.  Selain itu kami juga mencicipi “Poffertjes” asal Negara Belanda seharga 3 ribu rupiah/cup, isi tiap cup ada 5 buah. Kalau yang ini rasanya mirip apem jawa, tapi lebih gurih dan agak plain deh hehehe.
Untuk filmnya, saya dan Distya gak sempat nonton karena sudah telat dan quotanya sudah penuh, tapi kata Ledy dan Athila yang kami temui seusai nonton film sih biasa saja. Yawes, tidak terasa waktu hampir menunjukkan pukul 4 lebih, setelah menunaikan sholat asar di Masjid Kampus UGM, kami kembali ke Pusat Studi Jerman. Eh, ternyata acaranya hampir selesai, di luar Gedung Pusat Studi Jerman, ada beberapa “mas-mas” yang lagi asyik ber-parkour ria (*salah satu rangkaian acara Europe Day). Dan acara Europe Day  berakhir dengan atraksi parkour si “mas-mas” tadi :D. Oh iya dari kami berempat, gak ada yang dapat door prize hahaha, kami belum beruntung. 
Beberapa stand di Europe Day
Photo Session ^^


Poffertjes & Apfel Kuchen mit Ais

Mas-mas yang lagi parkour
Boneka dengan baju ‘bertani’ asal Belanda*
*ternyata baju khas Belanda seperti contoh yang ada di gambar “susu cap nona” selama ini bukanlah baju khas kebangsaan Negara Belanda, melainkan baju bertani dari Negara Belanda (kata mbak-mbak penjaga stand :D). Dari informasi yang saya peroleh, setiap daerah di Negara Belanda memliki baju ciri khas bertani untuk masing-masing daerah yang berbeda-beda.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Rainy Day @Mr. Burger



Helloo...Mr.Burger is everywhere :D. That was rainy day when I came here. Located in the corner of HOS Cokroaminoto street’s junction, beside the traffic light, alone. *Actually we can find Mr.Burger’s shop in some place in this town (Yogyakarta :) ),  ex. Jakal km 5, Taman Siswa, Gejayan, etc*. I ordered a PAHE 2 a.k.a. “Paket Hemat”. It’s consist of a sunny beefburger and one glass of milkshake, I chose a yummyy chocolate milkshake. Why it was called “sunny beefburger”?, we can answered  from it contain. If we opened the bun, we can see a fried egg (telur ceplok or telur mata sapi in Indonesian) like a sun. It also contain a yummy thick beef in the middle of the bun, lettuce, cucumber, tomato, mayonaise, tomato sauce, and chili sauce (it’s depend on our preference, we wanna spicy burger or not). It cost only 13.5 k for those yummy food and milkshake (PAHE 2). Most of all, I like the “bite process”. WHY?? Because I must prepare my big mouth to bite the burger, so all component of the burger can go into my mouth LOL XD.

PAHE 2: sunny beefburger & chocolate milkshake
After the first bite XD
Raining in the outside

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Mencicipi Selat Solo di "Selat Vien's"


Ceritanya, hari itu merupakan hari kedua kami akan melangsungkan tes di sebuah perusahaan makanan yang cukup besar dan terkenal di Indonesia. Berhubung tempat tes berada di UNS (Universitas Negeri Sebelas Maret) yang bertempat di Solo, mau tidak mau kami harus berangkat dari Jogja sekitar pukul 05.00-an menggunakan KRL menuju Solo, kereta yang ada adalah Sri Wedari (20k). Setiba di Kota Solo sekitar pukul 06.30-an, sarapan sebentar di dekat Stasiun Balapan, lalu melaju ke UNS untuk melangsungkan presentasi tentang CV dan beberapa tanya-jawab oleh beberapa direksi. Waktu itu kami bertujuh, saya, Distya, Nida, Nanet, Putri, Tyo, dan Ratna. Berbekal pengalaman hari pertama tes, hari kedua kami langsung ambil antrian awal, supaya bisa segera presentasi dan cepat pulang hehe. Ternyata benar, sekitar pukul 09.30 kami sudah selesai. Karena hari masih pagi, ditambah perut yang keroncongan, kami pun berjalan-jalan mencari makan. Seorang teman ingin sekali memakan selat solo, makanan khas kota ini, cuzz langsung kami mencari restoran yang menjual makanan khas ini. Sampailah kami di “SELAT VIEN’S” yang berlokasi di ruko Jl. Hasanuddin No.99 D & E, Banjarsari, Solo. Kata orang sih restoran ini menjual selat solo terenak. Ya sudah, langsung deh kami memesan selat daging cacah (7,5k) dan minum es teh juga es jeruk. Saya memesan sup matahari (5,5k) untuk dibawa pulang.
Untuk selat daging cacah rasanya enak, manisnya lumayan, berisi telur rebus, daging cacah, kentang goreng, buncis, wortel, timun, dan selada. Hmm, “penampakannya” hampir sama dengan bistik jawa lah. Sedangkan sup matahari isinya wortel, kentang digoreng tipis, dan daging semacam rolade yang dibalut telur dadar dan dibentuk menyerupai matahari, itulah sebabnya dinamakan sup matahari :D.  rasanya sih sama seperti sup-sup pada umumnya, tidak ada yang spesial selain bentuk rolade menyerupai matahari dan namanya saja.

Selat daging cacah

Sup matahari

Daftar menu

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

"Mengintip" Kehidupan Jepang


 Suasana di Kansai International Airport

      Sabtu, 28 April 2012, pukul 21.00 waktu setempat. Alhamdulillah, pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Kansai International Airport, Osaka, Japan. Fiuhh, perjalanan yang cukup melelahkan, tetapi sungguh menyenangkan. Hal pertama yang saya lakukan setibanya mendarat di bandara adalah pergi ke toilet. Hmm..langsung deh, ndeso-nya saya keluar, di toilet bandara saya melihat WC alias watercloset-nya terdapat banyak macam-macam tombol otomatis, ada tombol khusus untuk buang air kecil dan buang air besar, nampaknya perbedaan ini dilihat dari besarnya tekanan air yang keluar. Tombol flush untuk buang air besar tekanannya lebih kencang dan menyebar, sedangkan tombol flush untuk buang air kecil tekanannya lebih kecil dan terpusat di satu titik *ini bisa-bisanya saya menyimpulkan sendiri loh hehe*. Selain itu juga ada tombol dengan simbol not balok alias simbol musik yang kalau dipencet tombolnya, maka akan mengeluarkan suara gemericik air. Kalau yang ini, menurut saya tombol ini berfungsi untuk meng-kamuflase suara yang dikeluarkan si pemakai toilet saat buang air besar, jadi bagi orang yang berada di sekitar toilet tersebut tidak tahu apa yang sedang dilakukan orang tersebut di dalam toilet *gak penting juga kali ya mau tau orang lain lagi ngapain di toilet hehehe*.  Nah, cukup untuk toiletnya. Seusai mengurus ini dan itu, akhirnya saya bertemu dengan kakak ipar saya yang menjemput saya, ibu saya, dan juga ibu mertua kakak saya. Begitu keluar dari airport menuju tempat parkir mobil, udara yang dirasakan pertama kali adalah silir-sembribit, yang saya kira angin yang berasal dari pendingin ruangan, tapi ternyata bukan, melainkan angin yang berasal dari udara lingkungan sekitar, karena kala itu memasuki musim semi yang udaranya sekitar <200C. Nah, sebelum melanjutkan perjalanan yang masih panjang ke kota Toyohashi, Prefektur Aichi yang jarak tempuhnya sekitar 3-4 jam, tentu saja, sesi foto dan video di bandara tak lupa dilakukan :D. Walaupun rasanya lelah, tapi mata belum bisa terpejam selama perjalanan Osaka-Toyohashi untuk melihat keindahan lampu-lampu jalanan , gedung pencakar langit, serta jet coaster dan bianglala yang menjulang tinggi. Dan pada akhirnya mata pun sudah tidak dapat diajak kompromi lagi. Bleg!
Toyohashi keesokan harinya...edisi jalan-jalan nih *tunggu postingan berikutnya yaa :D*. Sebelum jalan-jalan, kita “mengintip” seputar kehidupan di Jepang yang lain dulu yaa, hihihi. Seperti yang kita tahu selama ini, Negara Jepang merupakan Negara yang rapi, teratur, taat, ramah, dan mandiri. Hal ini saya buktikan sendiri ketika saya berada di negara ini. Hal tersebut antara lain, ketika saya diajak kakak saya belanja di supermarket. Saat membayar barang belanjaan di kasir, kalau di Indonesia ‘kan barang belanjaan dari keranjang belanja, dicocokkan barcode-nya lalu dimasukkan ke dalam kantok plastik oleh kasir, baru kita membayarnya. Nah, bedanya di Jepang adalah setelah pencocokan barcode barang belanjaan, lalu barang belanjaan tadi dimasukkan ke dalam keranjang belanja lain, lalu kita diberi beberapa kantong plastik untuk  dimasukkan sendiri. Jadi, setelah membayar barang belanjaan, lalu kita membungkus barang belanjaan kita sendiri dengan plastik yang telah diberi tadi di meja khusus untuk meletakkan barang-barang (intinya self services gitu), sehingga tidak mengganggu costumer lain yang ingin melakukan pembayaran. Satu hal yang saya kagumi dan saya pelajari di sini adalah kemandirian customer atas barang belanjaannya sendiri, serta kecepatan dan keramahan kasir yang super duper harus diacungi jempol 10 deh kalau cukup *pinjem jempol tetangga, hehehe*.
Selain itu, hal yang paling menarik perhatian saya adalah lalu lintasnya... hmmm W.O.W bangett, tertib dan teratur. Hal ini bisa dilihat dari jarak antar kendaraan satu dengan yang lain saat menanti lampu lalulintas-kah, atau hanya berhenti menunggu antrian mobil karena macet itu jaraknya bisa 2 hingga 3 meter loh, yah ibarat besarnya jarak antar mobil itu bisa di”seseli” motor 1 sampai 2 buah lah :D. Sedangkan untuk pom bensinnya, juga mandiri tentunya, kita ngisi-ngisi sendiri, ya walaupun ada pom bensin lain yang ada jasa “pengisi”nya juga sih, tapi untuk pom bensin seperti itu jatuhnya harga lebih mahal, karena ibaratnya kita “mbayar” jasa orang tersebut. Kalau untuk parkir, di daerah Toyohashi jaraangg banget tempat umum yang memberlakukan karcis parkir, baik di supermarket, mall, apotek, dll. Kalaupun ada biasanya di daerah stasiun. Karcisnya pun otomatis tanpa ada tukang parkirnya, jadi semacam kalau kita beli minuman di vending machine (mesin penjaja), ya pokoknya di Jepang nih banyakan serba otomatis deh :D. Hal lain yang saya kagumi dari negara ini adalah, hak para pejalan kaki di sini begitu dihargai sekali lhoo.
Nah, itu tadi beberapa pengalaman saya selama di Negara Jepang. Sebenarnya banyak sekali yang bisa kita pelajari dari beberapa hal yang sudah saya utarakan tadi. Ya walaupun tidak 100% kita bisa mengikuti sepenuhnya seperti kehidupan di Jepang sana, tapi paling tidak sifat dan watak mereka yang rapi, teratur, taat, ramah, dan mandiri bisa kita aplikasikan untuk diri kita sendiri :).      

Pengisian bensin secara mandiri
Pembayaran bensin yang akan diisi
Tempat membayar karcis parkir
Kalau parkirnya belum dibayar, alat di bawah mobil gak bakalan turun, jadi ga bisa kabur deh :p 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...