Powered by Blogger.
RSS
Container Icon
Showing posts with label Little Info. Show all posts
Showing posts with label Little Info. Show all posts

Satu Bulan di Dodik Belanegara :)


Better late than never. Yah, sudah dua minggu ini sejak saya selesai melaksanakan SUSBINTAL seperti yang saya ceritakan di postingan lalu. Susbintal sendiri merupakan kepanjangan dari Kursus Pembinaan Mental, yah bisa dibilang semacam akademi militer gitu lah. Waktu saya tahu kalau sebelum masuk kerja harus ikut susbintal semacam itu yang ada dipikiran saya antara kepo, penasaran, ngeri, pingin ngerasain, dsb, pokoknya campur aduk deh. And you know what semalam sebelum hari H datang, saya sebegitu semangatnya ingin segera esok tiba, tapi di saat beberapa jam sebelum bis kami berangkat tiba-tiba nyali saya ciut yang dibuktikan dengan keringat dingin, kaki gemetar, dan perut mules #lebay XP (ya pokoknya jadi ngeri tiba-tiba lah). But the show must go on, mau gak mau harus dijalani.
Akhirnya setelah perjalanan sekitar dua jam dari Gresik menuju Malang, kami pun tiba di DODIK BELANEGARA RINDAM V / BRAWIJAYA. Ini dia gapura depannya:

Gapura luar Dodik Belanegara (sumber: klik)

Yeaahh, setibanya di sana kami langsung disuruh cek kesehatan (cek tensi ‘n ditanyain riwayat sakit/ penyakit). Kegiatan full baru benar – benar dimulai keesokan harinya setelah upacara pembukaan.  Oke, di sini judulnya adalah: FULL OF RULES!! Dari bangun tidur sampai tidur lagi semuanya diatur. Makan, mandi, olahraga, sampai melipat baju pun diatur. Oke sih buat melatih kedisiplinan dan rasa tanggung jawab kita, tapi yang saya rasa enggak banget adalah lari di siang hari sebelum makan! Masih mending kalo jadwal lari sehabis subuh, tapi ini disuruh lari panas-panas (jam 12-an) dalam kondisi belum makan, dan bikin kulit gosong!! (*sebenernya yang perlu digarisbawahi adalah yang bikin kulit gosong, hehehe). Nah itu tadi jadwal lari udah hampir kayak jadwal minum obat aja (2x sehari, untung gak 3x sehari -_-a).
Memang sih, di awal-awal minggu masih butuh penyesuaian ini itu, tapi kenyataannya di minggu-minggu belakangan saya sudah mulai menikmatinya hahaha. Apalagi di minggu ke-4 alias minggu terakhir. Udah gak ada materi, jadinya tinggal main-main aja. Best moments ada di minggu ke-4 ini, dari caraka malam, outbond, pengenalan senjata, war games, air soft gun.. aaakkk,,, jadi pengen lagiii!!! I’ll be miss that moments so bad T_T . Nostalgia lagi ya cuma liat foto-fotonya aja.

Pembacaan peta, outbond, yel-yel
Pengenalan dan perakitan senjata
Yongmoodo

*Yongmoodo merupakan seni beladiri asal Korea Selatan yang digunakan oleh TNI AD sebagai sarana beladiri militer

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Wajah Orang Jepang Bisa Dilihat dari Alisnya??

Suatu ketika saya bertanya pada teman saya

A         : “Kamu tau beda wajah orang jepang ma orang korea gak?”
D         : ”Alisnya bukan? Kayaknya alisnya naik gitu deh”

Yaa..untuk membedakan antara wajah orang Asia, khususnya wajah orang jepang dan orang korea terletak pada alisnya. Alis orang jepang biasanya naik, jadi kalau diperhatikan baik-baik seolah-olah orang tersebut galak karena bentuk alisnya yang naik.
Contoh wajah orang jepang

Kemudian saya melakukan sedikit observasi kecil-kecilan mengenai masalah “alis” ini. Sebenarnya observasi ini saya lakukan setelah adanya obrolan ringan dengan pacar sepupu saya saat family gathering tentang keponakan saya + ayah bundanya yang baru pulang dari Jepang. Sekilas obrolannya begini:

D         : “Mbak, dek Alvard wajahnya kayak orang jepang ya, liat aja tuh alisnya”
A         : “Eh iya ya, baru nyadar mbak. Apa gara-gara lahir di Jepang terus mukanya jadi mirip orang jepang gitu yaa??”

Ok Skip. Langsung aja deh saya liatin wajah keponakan saya yang alisnya mirip orang jepang. Ini diaaa....

Alvard, alisnya naik mirip orang jepang

Kemudian saya langsung konfirmasi ke kakak saya kenapa alis si Alvard bisa mirip orang jepang kayak gitu. Dan ternyata kakak saya bilang kalau alisnya jadi naik gitu karena pas cukur rambut di Jepang sono. Dan tanpa sepengetahuan kakak saya tau-tau alisnya udah jadi begitu sepulang dari tempat cukur hihihihi. *FYI: kalau orang dewasa biasanya ditanyain alisnya mau ikutan dicukur apa enggak*. Bisa jadi karena Alvard masih kecil, jadi ama tukang cukurnya asal dicukur aja tanpa ditanyain dulu, hehehe.
Nah dari situ ke”kepo”an saya mulai terganggu. Setelah cari di mbah gugel beberapa nama artis Jepang antara lain Takeshi Kaneshiro dan Kenichi Matsuyama (nama ini juga nanya temen dink, hehe), alhasil saya peroleh gambar ini:

Takeshi Kaneshiro (perhatikan alisnya yak)

Kenichi Matsuyama (liat alisnya juga nih)

Nah bagaimana pendapat kalian tentang alis mereka? Tipis di bagian pinggirnya kan?? Dari hasil observasi tersebut saya menyimpulkan kalau wajah orang jepang bisa ditentukan dari bentuk alisnya. Kalau dari gambar dua artis di atas dan disambungin cerita tentang tempat cukur dari kakak saya, alis orang Jepang yang tampak naik memang dibuat seperti itu karena saat cukur rambut biasanya sepaket sama cukur alis hohohoho.
Nah kalo untuk anak kecil jepang mungkin belum terlalu kelihatan kalau alisnya memang sengaja dicukur. Tapi semakin dewasa, alis mata juga ikut tumbuh seiring dengan pertumbuhan tubuh. Jadi orang jepang dewasa yang gak cukur alis/ merapikan alis, pasti alisnya akan kelihatan tipis di bagian pinggirnya seperti contoh foto di atas.
Hal ini apakah berlaku buat cewek juga atau tidak saya belum bisa memastikan, karena dari hasil pencarian mbah gugel untuk artis-artis cewek jepang gak bisa dipastikan, karena rata-rata artis-artisnya pada dandan semua pake pensil alis, jadi gatau deh gimana keadaan alis yang asli :p.
Oke deh, sekian dulu tulisan saya ini. Karena ini murni saya cari tahu sendiri, jadi kalau ada yang salah mohon maaf. Atau ada yang ingin sharing pengalaman, pintu sangat terbuka lebar lhoo :) :D.

Sumber gambar: link ini, ini, ini, dan ini

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

MYTEA: Minuman Teh Oolong yang Bisa Bikin Makan Enak terus


Wah,, Bulan September postingan dimana-mana kosong (postingan temen, postingan saya sendiri) kayaknya lagi pada sibuk persiapan tes cpns deh hehehe. Yasudah, mumpung Bulan September belum habis, kali ini saya ingin mereview salah satu produk minuman yang iklannya sudah sering muncul di TV. Kalau tahu iklannya, pasti ada obrolan kayak gini:

Sumber: link ini 
Vino                            : Emang lo bisa apa?
Pucuk Daun teh          : Gua bisa bikin lo makan enak terus

Yuhuuu...produk minuman ini adalah MYTEA, merupakan minuman kemasan ready to drink yang terbuat dari teh Oolong (baca: ulong). Nah, apa sih sebenarnya teh Oolong sendiri? Teh Oolong merupakan teh semi fermentasi yang berbasic dari black tea (black tea merupakan teh fermentasi yang mengacu pada reaksi oksidasi, bukan aktivitas mikrobia). Secara garis besar proses pembuatan teh Oolong dapat dilihat di bawah ini:


Tahapan pemeraman pada proses pengolahan teh Oolong di atas membuat teh Oolong memiliki kandungan antioksidan (polyphenol) yang sangat tinggi. Polyphenol adalah kandungan penting yang sangat mempengaruhi aroma Oolong yang unik dan juga manfaat yang tinggi untuk kesehatan maupun kecantikan, khususnya masalah obesitas. Nah dari penjelasan ini kita jadi tahu maksud pembicaraan antara Vino dan Si pucuk daun teh di atas.
Saat iklan ini muncul pun saya jadi tertarik ingin mencoba rasanya. Dan setelah saya minum, ternyata rasanya tidak jauh berbeda dengan green tea. Masih cocok di lidah saya :). Sebotol MYTEA berisi 450 ml saya beli seharga 4900 rupiah*. Harga yang cukup murah untuk manfaat yang besar. Selamat mencoba :D :D.
Setelah dibuka sebaiknya disimpan dalam lemari pendingin dan langsung diminum pada hari yang sama

Sumber : materi kuliah kopi, teh, dan kakao; serta link ini

*harga tiap tempat belum tentu sama

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

"Mengintip" Kehidupan Jepang #4: Rumah Sakit Bersalin Jun Ladies Clinic di Toyohashi

Jun Ladies Clinic
Pada kesempatan kali ini, saya akan berbagi cerita mengenai rumah sakit bersalin di Jepang, khususnya di Kota Toyohashi, Prefektur Aichi. Rumah sakit ini bernama: Jun Ladies Clinic. Di negara Jepang, bagi wanita yang akan melahirkan pasti mendapatkan subsidi dari pemerintah. Banyaknya dana tersebut sebesar 420000¥ (empat ratus dua puluh ribu yen รจ satu yen setara 100 rupiah). Dana subsidi itu sendiri bisa nombok (membayar kekurangan dengan dana pribadi) tapi bisa juga malah sisa, hal ini bergantung dari jenis rumah sakit maupun klinik yang dipilih. Sementara Jun Ladies Clinic termasuk dalam kelas “bagus”, sehingga biasanya nomboki.   Mengapa pemerintah Jepang begitu murah hatinya membiayai biaya untuk bersalin ini? Alasan salah satunya “mungkin” untuk menarik minat orang Jepang supaya punya anak dikarena angka kelahiran di Jepang yang bisa dibilang cukup rendah. Alasan orang Jepang malas punya anak coz biaya hidup di Jepang yang sangat tinggi (salah satunya biaya pendidikan). *Lah udah disubsidi aja angka pertumbuhan penduduknya masih rendah, apalagi kalo gak disubsidi.... :O*. Selain itu dengan adanya subsidi dari pemerintah bisa “membantu” keluarga di Jepang dikarenakan memang biaya melahirkan yang tinggi, baik melahirkan secara normal maupun caesar.
Oke baiklah, kesempatan berkunjung ke Jun Ladies Clinic dikarenakan kakak saya yang melahirkan di tempat ini. Beberapa hal yang unik di tempat ini antara lain (sepertinya berlaku pula di beberapa rumah sakit bersalin di daerah lain):
1.    Timbangan bayi untuk memantau perkembangan bayi, yang diletakkan di luar kamar
Timbangan bayi ini sengaja diletakkan di luar kamar (terpusat di satu tempat), fungsinya untuk memantau perkembangan bayi dalam hal minum susunya apakah normal atau tidak. Setiap tiga jam, yaitu pukul 10, 13, 16, dst merupakan jadwal minum si bayi, baik ASI maupun susu formula. Jika yang dipergunakan susu formula, maka tinggal ditulis berapa ml susu yang bisa dihabiskan si bayi. Sedangkan kalau pake ASI, kita ‘kan gak tahu jumlah ml ASI yang diminum si bayi, maka sebelum dan sesudah minum ASI si bayi ditimbang berat badannya. Selisih berat badan sebelum dan sesudah minum ASI-lah yang jadi patokannya :). (Wah, kalo di sinetron Indonesia, data kayak gini bisa dengan mudah dimanipulasi tuh ma peran antagonis *korban sinetron >,<)
Timbangan bayi yang diletakkan di luar kamar
2.    Setelah makan, nampan berisi piring dan gelas kosong diletakkan di luar kamar
Berprinsip kemandirian, setiap ibu yang sudah selesai makan, nampan berisi piring, sendok, dan gelas yang sudah tidak dipakai diletakkan sendiri ke rak khusus di luar kamar (buat kegiatan si ibu juga selain di dalam kamar bisa jalan-jalan bentar ke luar kamar :D)
Rak tempat meletakkan nampan berisi piring, gelas yang sudah tidak dipakai

3.    Kasur lipat/ futon (baca futong)
Bagi penjaga si ibu / additional person atau keluarga yang nginep menemani si ibu disediakan futon alias kasur lipat (kayak di film Doraemon, si dora tidur di dalem lemari) yang diletakkan di dalam lemari, jadi kalau mau dipakai tinggal digelar di karpet kamar.
Futon yang diletakkan di dalam lemari
4.    Dinner spesial bareng suami
Di hari terakhir sebelum si ibu pulang ke rumah disediakan dinner spesial bareng suami yang bisa dibilang jatahnya bukan cuma buat dua orang tapi mungkin bisa buat tiga sampai empat orang (banyak banget makanannya >,< yang penting saya dapet jatah :p)
Menu dinner yang cukup buanyak
5.    Foto keluarga
Pihak rumah sakit juga menyediakan foto keluarga sekaligus pemberian album lucu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Wisata Sejarah ke 'Futagawa Shuku Honjin Museum'

Udah lama banget gak berwisata sejarah nih. Mumpung lagi di Jepang gak ada salahnya ‘kan wisata sejarah sejenak :D. Padahal kalau di Indonesia wisata ke tempat bersejarah biasanya buat foto-foto doank, tapi ya ini tetep ada foto-fotonya :p, sekalian belajar sejarah deh :D.
Jika para pembaca yang budiman sedang berada di Negara Jepang, khususnya di Kota Toyohashi, Prefektur Aichi, gak ada salahnya untuk mampir ke tempat ini. Tempat ini bernama Toyohashi City รจ Futagawa Shuku Honjin Museum. Tiket masuk dewasa seharga 400¥, sedangkan untuk student cukup bayar 100¥ saja. Sejarah museum ini kurang lebih seperti ini: Selama Zaman Edo (disebut juga awal zaman modern di Jepang), Tokaido merupakan rute terpenting yang menghubungkan antara Kyoto-Osaka. Baik orang, barang dagangan, maupun informasi melewati rute ini. Terdapat sekitar 53 stasiun peristirahatan sepanjang rute Tokaido, nah Futugawa Shuku merupakan stasiun peristirahatan ke-33 sepanjang rute ini. Di tempat ini, kita bisa menikmati pengalaman perjalanan di zaman Edo dengan mengunjungi Honjin (tempat tinggal raja) dan Hatagoya (tempat tinggal orang biasa).
Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, di museum ini terdapat dua macam tempat tinggal, yang bernama Futagawa Shuku Honjin untuk para bangsawan dan Hatagoya “Seimeiya” untuk warga biasa. Dari 53 original Honjin, hanya tinggal dua yang tersisa, salah satunya adalah Futagawa Shuku Honjin ini. Sedangkan Hatagoya “Seimeiya” terletak di sebelah timur Honjin. Di tempat ini kita bisa melihat rumah jepang yang masih ‘asli’, berbagai macam peralatan dapur yang digunakan, sumur, dsb. kita juga bisa menikmati Matcha (teh hijau tradisional Jepang), dan yang paling menarik perhatian saya adalah kita bisa memakai pakaian tradisonal Jepang kimono maupun yukata secara gratis :D.

Sekilas tentang Futagawa Shuku Honjin dan Hatagoya “Seimeiya”

Beberapa peralatan dapur yang digunakan selama Zaman Edo

Untuk mencicipi matcha alias green tea-nya plus ‘sweet’ alias cemilan yang manis-manis karena untuk mengimbangi rasa si matcha yang super pahit (kalau saya pertama kali nyeruput malah berasa amis >,<), tiap orang wajib membayar 300¥, namun tidak setiap hari lho kita bisa menikmati upacara minum teh ini, karena hanya hari-hari tertentu saja seperti hari Sabtu, Minggu, dan hari libur (termasuk hari libur pengganti) pukul 10.30-16.00 saja kita bisa menikmatinya. Kalau upacara minum teh beneran sih ribet, dari cara duduknya yang harus tegak dan menduduki kedua kaki, seperti foto di bawah ini *tapi waktu itu gak ada upacara minum teh beneran*:

Atas: ibu-ibu yang bawain seperangkat matcha & ‘sweet’, kiri bawah: cara meminum matcha duduk dengan tegak sambil menegak mangkok, kanan bawah: si ‘sweet’ berupa semacam mochi  

Yang paling menarik adalah saat kita bisa mencoba kimono atau yukata, saya dan kakak saya lebih memilih kimono karena jaraaannnggg banget bisa pake kimono gretongan :p, coz biasanya kimono digunakan untuk acara-acara tertentu yang biaya sewanya bisa mencapai jutaan rupiah tergantung dari corak, warna, maupun keperluan pemakaiannya. Perbedaan yukata dan kimono terletak dari banyaknya lapisan kain. Yukata hanya terdiri dari satu lapis kain, sedangkan kimono bisa berlapis-lapis antara 5 sampai 7 lapis. Selain itu pemakaian kimono juga lebih ribet (bahkan ibu-ibu yang mbantu pake kimono ampe kepanasan sendiri :p). Yang jelas, setelah kita “minjem’ kimono buat dipakai, kita bisa muter-muter seluruh area museum dengan memakai kimono tersebut sambil foto-foto di tiap spot yang unik dan oke punya :).
Berbagai macam yukata dan seperangkat aksesoris kimono maupun yukata

Pakai kimono dibantuin ibu-ibu yang malah kepanasan sendiri waktu makein :p 

 
Berfoto di berbagai macam spot museum

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

"Mengintip" Kehidupan Jepang #3: Tentang Rumah & Apartemen

Di tulisan kali ini, saya ingin berbagi cerita tentang tempat tinggal di Jepang.  Ketika saya berada di Jepang (Toyohashi, Prefektur Aichi), saya menginap di apartemen tempat kakak saya tinggal. Di daerah sekitar, hampir di tiap blok perumahan pasti terdapat apartemen. Memang kebanyakan warga Jepang maupun pendatang tinggal di apartemen. Ya walaupun tidak sedikit juga yang tinggal di rumah. Berikut beberapa hal yang pada umumnya ada baik di apartemen maupun rumah di jepang antara lain sebagai berikut:
1.    Tatami
Kebanyakan rumah-rumah maupun apartemen di Jepang menggunakan tatami sebagai pengganti lantai. Tatami terbuat dari jerami yang sudah ditenun, hampir mirip dengan tikar namun tatami memiliki volume yang lebih besar. Keuntungan penggunaan tatami dibandingkan dengan lantai keramik antara lain apabila saat musim panas maupun dingin (summer or winter) dengan kondisi yang ekstrim, telapak kaki sang pemilik rumah masih terasa hangat dan tidak terlalu dingin saat musim dingin atau pun berkeringat saat musim panas tiba. Selain itu tatami mudah dibersihkan dengan vacuum cleaner (penggunaan vacuum cleaner cukup umum di apartemen Jepang) dan tidak perlu di-pel :).
Tatami

2.    Pemanas ruangan maupun water heater
Karena Negara Jepang merupakan salah satu negara empat musim yang memiliki kondisi yang terkadang ekstrim di tiap musimnya, maka hampir dipastikan setiap rumah maupun apartemen pasti memiliki pemanas ruangan maupun water heater.
Water heater

3.    Mesin cuci
Masih sama karena alasan musim, hampir di setiap rumah maupun apartemen pasti memiliki mesin cuci (yakali ada orang mau cuci manual waktu musim dingin :P). Oh iya, apabila kita ingin tahu apakah suatu apartemen ditempati seseorang atau tidak, bisa kita lihat dari mesin cucinya ada atau tidak, karena biasanya mesin cuci diletakkan di depan dekat pintu apartemen (tapi biasanya di apartemen kecil sih hehehe)
Mesin cuci bisa jadi salah satu penanda suatu apartemen ditempati atau tidak

4.    Exhaust fan
Exhaust fan berfungsi sebagai sirkulasi udara antara udara di dalam dan di luar ruangan. Exhaust fan biasanya terdapat di dapur (sangat bermanfaat ketika sedang masak :D).
Exhaust fan

5.    Pembuangan sampah
Baik di rumah maupun apartemen, baik sampah plastik, sampah basah, maupun botol/ kaleng sudah dipisahkan sendiri-sendiri oleh sang pemilik rumah/ apartemen. Hal ini salah satunya untuk memudahkan dalam recycling sampah-sampah tersebut, selain itu juga karena sudah ada hari khusus untuk membuang tiap masing-masing sampah. Seperti di daerah apartemen tempat kakak saya tinggal, pembuangan sampah basah setiap hari senin dan kamis. Sampah plastik dan botol setiap hari rabu.
Sampah-sampah yang siap diangkut oleh truk sampah

Itulah tadi beberapa hal yang saya amati selama tinggal beberapa waktu di Jepang. Semoga bisa menambah informasi Anda sekalian :). Oh iya, kemungkinan tidak semua daerah/ kota di Jepang sama persis seperti ini lhoo, ini cerita saya di Kota Toyohashi, Prefektur Aichi, Jepang :D

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Edisi Mbolang #3: Dari Economy Class ke Bussiness Class

Yiiihaaaa,, welcome to edisi Mbolang #3. Keharusan mbolang yang ke-3 ini adalah karna aku mau ngurus visa di ibukota negara tercinta, Jakarta hohoho. Visa? Visa kemana? Visa ke Jepang donks ehehe, Alhamdulillah dapet kesempatan kedua mengunjungi negara ini :D, dengan misi yang berbeda. Kalo tahun lalu emang misi jalan-jalan sih, tapi tahun ini aku dapet misi bertugas selama 1 bulan buat ngurusin ponakan-ponakan, *yaa itung-itung belajar jadi ibu rumah tangga sih, toh juga mumpung lom kerja ini (di Edisi Mbolang #2 sebenernya aku dah ketrima di perusahaaan ritel tersebut, tapi karna ada kejadian yang benar-benar di luar kemampuanku, akhirnya kesempatan untuk bekerja harus “ditunda dulu”, toh aku yakin kalo Allah memberikan suatu keadaan pasti ada hikmah dibaliknya, yaa mungkin bisa ke Jepang lagi salah satunya :D).
Oke, transportasi yang aku gunain dalam perjalanan Yogya-Jakarta kali ini adalah pesawat terbang *mumpung dibayarin sama Pakde, ya tetep cari yang promo, economy class :p. Jujur aja, ya walaupun udah beberapa kali naik pesawat, tapi biasanya ‘kan sama ortu, kakak, dll. Jadi aku gatau urutan dari check in nyampe boarding tu ngapain aja karna semuanya dah diurus ma mereka, hahaha, so, ibuku ngejelasin deh urutan-urutannya aku harus ngapain. Akhirnya waktu boarding pun datang, aku pun segera masuk ke pesawat. Kalo di boarding pass sih aku dapetnya tempat duduk di sebelah jendela. Tapi sesampai di dalam pesawat, tempat dudukku dah ditempatin ma dua orang mbak-mbak :O,, mana yang bikin empet ‘n sebel lagi adalah kabin jatahku naro barang udah dipake semua, there’s no place for me at all :O. Mana aku bawa ransel gede + oleh-oleh ayam goreng yang juga segede gaban lagi *hahaha lebay kalo ini :p*. Dan akhirnya aku duduk di pinggir sambil nggrundel-nggrundel sendiri sama mbak-mbak di sebelahku #@#!!! Eh yang gak disangka-sangka... tiba-tiba ada mas-mas petugas bandara yang nanyain aku sama penumpang kursi seberangku, “Mbak, sendirian ato rombongan? Mau pindah duduk di depan?”. Hmm.. yaudah aku jawab aja “Mau”, daripada nggrundel-nggrundel gak jelas sama mbak-mbak ini selama 1 jam perjalanan Yogya-Jakarta, mending aku pindah, sapa tau tempat di depan lebih nyaman ‘n yang penting dapet jatah kabin yang gede buat naro tasku ini. Dan ternyataaaa...jreng-jreng-jreng. Aku gak hanya dapet tempat yang NYAMAN tapi NYAMAN BANGET & SUPER NYAMAN. Gimana enggak, yang tadinya aku dapet di economy class, tiba-tiba aku dapet jatah yang bussiness class, yuhuuu...Allah emang Maha Adil, Alhamdulillah J. Tempat duduk luas, terbatas, ada tempat pijakan kaki, kabinnya super gede *nyampe turah-turah :p, dsb. Hukum sebab-akibat tetep berlaku kawan J. Dan lucunya lagi sehari sebelum keberangkatan aku ma ibuku emang ngebahas tentang bussiness class di pesawat, kalo kata ibuku, “Itu lho yang tempat duduknya di depan sendiri, yang luas, yang gede” :D. Eh taunya aku sendiri ngerasain J. Dan perjalanan 1 jam itu pun kuhabiskan dengan nyaman dan santai. Alhamdulillah J.

Foto-foto sebelum tak off ehehehe :E

Thank you to mas-mas petugas bandara yang kasih option yg oke punya J

 Nb.:
Tips mbolang #3 รจ jangan suka ngambil ‘jatah’ orang lain demi keegoisan diri sendiri, inget hukum sebab-akibat J
Jangan takut untuk mbolang sendirian, yang penting berani, pede, ‘n jangan malu bertanya kalo emang lom tau apa-apa. Toh yang tadinya kita gak tau, kita jadi bakalan tau :D.

Lihat sebelumnya: Edisi Mbolang #2

Lihat selanjutnya: Edisi Mbolang #4

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...