Powered by Blogger.
RSS
Container Icon
Showing posts with label Jepang. Show all posts
Showing posts with label Jepang. Show all posts

#1 Drawing & Coloring : "Butterfly Picture in My Green Helmet"

It’s been such a long time since I’ve  posted my writing here. Huft...mohon maaf ya pemirsah yang sudah lama menunggu tulisan saya (kalau ada yang nunggu sih ;) hihihihi). Beberapa kesibukan bekerja juga persiapan lamaran dan pernikahan tahun lalu telah menyita banyak waktu, jadinya gak sempet deh buat nulis menulis J. And now I’ve been married, Alhamdulillah J. Sebenarnya ada beberapa bahan tulisan selepas saya menikah, dari tempat honeymoon di Bali sampai acara liburan lainnya, tapi keinginan menulis terkadang mulai surut saat datangnya weekend yang seolah harus dan wajib dihabiskan untuk istirahat seharian atau berkumpul bersama suami dan keluarga, maupun untuk sekedar membersihkan rumah selepas 5 hari yang melelahkan yang dihabiskan di kantor. Oke skip curhatnya :D.
Awalnya memang saya penasaran dengan postingn teman-teman saya tentang #drawingforadults, #coloringforadults, dan semacamnya, lucu, warna-warni, pokoknya seru dan takjub gitu liatnya. Dan emang dasarnya saya suka menggambar dan mewarnai, lantas jadi pingin ikutan beli buku tersebut terus diwarna-warnain gitu :D. Sampai pada akhirnya saya lihat barang-barang di sekitar saya dan tercetus ide untuk menggambar sendiri objeknya, lalu diwarnai sendiri. Saya mengakui kalau saya tidak terlalu kreatif XD, jadi disini saya menggambar sebuah objek lalu saya warnai, dan terakhir dibandingkan dengan hasil gambar dan warnanya dengan objek aslinya (kayaknya bakalan jadi hobi baru nih).  Oke, check these out ;).
Pertama yang saya lakukan adalah memilih objek yang akan digambar. Objek gambar yang saya pilih adalah gambar kupu-kupu yang ada di helm berwarna hijau kesayangan saya, yang sadly sekarang gak boleh saya pakai sama suami karena alasan kurang safety L, asal bukan karena norak aja sih it’s oke hahahaha.
Gambar kupu-kupu berwarna pink ini saya pilih sebagai objek gambar
Setelah menentukan objek gambarnya, lalu siapkan alat untuk menggambar seperti kertas, buku gambar, atau sketch book (saya pakai sketch book ukuran A5 yang kebetulan beralih fungsi jadi buku keuangan :p), dan jangan lupa pensil atau pulpen untuk menggambar (saya menggunakan pulpen Queen’s High Grade C 6000). Untuk lebih mudah menghapus gambar yang tidak sesuai memang disarankan untuk memakai pensil, tapi bagi yang suka langsung jadi tanpa takut salah bisa menggunakan pulpen seperti yang saya gunakan J. Setelah semua peralatan menggambar siap, proses menggambar/ mensketsa bisa langsung dilakukan. And taraa hasilnya seperti ini :
Hasil sketsa gambar kupu-kupu dari helm hijau ke sketch book J
Bagian ketiga adalah bagian yang menurut saya paling sulit, mengapa paling sulit? Selain memakan waktu yang lebih lama untuk menentukan komposisi warna yang pas dan cocok juga pengaplikasian warna tersebut ke objek gambar hingga ke detail gambarnya. Hal ini terbukti dari proses sketsa gambar yang hanya memakan waktu sekitar 5 – 7 menit, namun proses pewarnaan bisa mencapai waktu 1 jam. Ok, pensil warna yang saya gunakan adalah Mitsubishi Colored Pencils 36 colors No. 880 yang kebetulan dibawa langsung dari Jepang oleh kakak saya sebagai oleh-oleh untuk saya 3-4 tahun yang lalu (sudah sangat lama tidak dipakai, sebelum dipakai dirautin semua dulu karena pensil warnanya seperti berjamur hehehe).



Warna-warna yang saya gunakan untuk pengaplilkasian ke objek gambar adalah black, silver, grey, pink, rose red, dan light orange, serta reddish brown untuk dahan pohon dan deep green untuk tambahan daun jatuh. Hasilnya seperti ini :
Gambar kupu-kupu hasil pewarnaan saya beri judul “Butterfly picture in my green helmet“

Oke..semoga bermanfaat. Selamat berakhir pekan, selamat berkumpul dengan keluarga, selamat jalan-jalan, selamat makan-makan J.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Wajah Orang Jepang Bisa Dilihat dari Alisnya??

Suatu ketika saya bertanya pada teman saya

A         : “Kamu tau beda wajah orang jepang ma orang korea gak?”
D         : ”Alisnya bukan? Kayaknya alisnya naik gitu deh”

Yaa..untuk membedakan antara wajah orang Asia, khususnya wajah orang jepang dan orang korea terletak pada alisnya. Alis orang jepang biasanya naik, jadi kalau diperhatikan baik-baik seolah-olah orang tersebut galak karena bentuk alisnya yang naik.
Contoh wajah orang jepang

Kemudian saya melakukan sedikit observasi kecil-kecilan mengenai masalah “alis” ini. Sebenarnya observasi ini saya lakukan setelah adanya obrolan ringan dengan pacar sepupu saya saat family gathering tentang keponakan saya + ayah bundanya yang baru pulang dari Jepang. Sekilas obrolannya begini:

D         : “Mbak, dek Alvard wajahnya kayak orang jepang ya, liat aja tuh alisnya”
A         : “Eh iya ya, baru nyadar mbak. Apa gara-gara lahir di Jepang terus mukanya jadi mirip orang jepang gitu yaa??”

Ok Skip. Langsung aja deh saya liatin wajah keponakan saya yang alisnya mirip orang jepang. Ini diaaa....

Alvard, alisnya naik mirip orang jepang

Kemudian saya langsung konfirmasi ke kakak saya kenapa alis si Alvard bisa mirip orang jepang kayak gitu. Dan ternyata kakak saya bilang kalau alisnya jadi naik gitu karena pas cukur rambut di Jepang sono. Dan tanpa sepengetahuan kakak saya tau-tau alisnya udah jadi begitu sepulang dari tempat cukur hihihihi. *FYI: kalau orang dewasa biasanya ditanyain alisnya mau ikutan dicukur apa enggak*. Bisa jadi karena Alvard masih kecil, jadi ama tukang cukurnya asal dicukur aja tanpa ditanyain dulu, hehehe.
Nah dari situ ke”kepo”an saya mulai terganggu. Setelah cari di mbah gugel beberapa nama artis Jepang antara lain Takeshi Kaneshiro dan Kenichi Matsuyama (nama ini juga nanya temen dink, hehe), alhasil saya peroleh gambar ini:

Takeshi Kaneshiro (perhatikan alisnya yak)

Kenichi Matsuyama (liat alisnya juga nih)

Nah bagaimana pendapat kalian tentang alis mereka? Tipis di bagian pinggirnya kan?? Dari hasil observasi tersebut saya menyimpulkan kalau wajah orang jepang bisa ditentukan dari bentuk alisnya. Kalau dari gambar dua artis di atas dan disambungin cerita tentang tempat cukur dari kakak saya, alis orang Jepang yang tampak naik memang dibuat seperti itu karena saat cukur rambut biasanya sepaket sama cukur alis hohohoho.
Nah kalo untuk anak kecil jepang mungkin belum terlalu kelihatan kalau alisnya memang sengaja dicukur. Tapi semakin dewasa, alis mata juga ikut tumbuh seiring dengan pertumbuhan tubuh. Jadi orang jepang dewasa yang gak cukur alis/ merapikan alis, pasti alisnya akan kelihatan tipis di bagian pinggirnya seperti contoh foto di atas.
Hal ini apakah berlaku buat cewek juga atau tidak saya belum bisa memastikan, karena dari hasil pencarian mbah gugel untuk artis-artis cewek jepang gak bisa dipastikan, karena rata-rata artis-artisnya pada dandan semua pake pensil alis, jadi gatau deh gimana keadaan alis yang asli :p.
Oke deh, sekian dulu tulisan saya ini. Karena ini murni saya cari tahu sendiri, jadi kalau ada yang salah mohon maaf. Atau ada yang ingin sharing pengalaman, pintu sangat terbuka lebar lhoo :) :D.

Sumber gambar: link ini, ini, ini, dan ini

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

"Mengintip" Kehidupan Jepang #4: Rumah Sakit Bersalin Jun Ladies Clinic di Toyohashi

Jun Ladies Clinic
Pada kesempatan kali ini, saya akan berbagi cerita mengenai rumah sakit bersalin di Jepang, khususnya di Kota Toyohashi, Prefektur Aichi. Rumah sakit ini bernama: Jun Ladies Clinic. Di negara Jepang, bagi wanita yang akan melahirkan pasti mendapatkan subsidi dari pemerintah. Banyaknya dana tersebut sebesar 420000¥ (empat ratus dua puluh ribu yen รจ satu yen setara 100 rupiah). Dana subsidi itu sendiri bisa nombok (membayar kekurangan dengan dana pribadi) tapi bisa juga malah sisa, hal ini bergantung dari jenis rumah sakit maupun klinik yang dipilih. Sementara Jun Ladies Clinic termasuk dalam kelas “bagus”, sehingga biasanya nomboki.   Mengapa pemerintah Jepang begitu murah hatinya membiayai biaya untuk bersalin ini? Alasan salah satunya “mungkin” untuk menarik minat orang Jepang supaya punya anak dikarena angka kelahiran di Jepang yang bisa dibilang cukup rendah. Alasan orang Jepang malas punya anak coz biaya hidup di Jepang yang sangat tinggi (salah satunya biaya pendidikan). *Lah udah disubsidi aja angka pertumbuhan penduduknya masih rendah, apalagi kalo gak disubsidi.... :O*. Selain itu dengan adanya subsidi dari pemerintah bisa “membantu” keluarga di Jepang dikarenakan memang biaya melahirkan yang tinggi, baik melahirkan secara normal maupun caesar.
Oke baiklah, kesempatan berkunjung ke Jun Ladies Clinic dikarenakan kakak saya yang melahirkan di tempat ini. Beberapa hal yang unik di tempat ini antara lain (sepertinya berlaku pula di beberapa rumah sakit bersalin di daerah lain):
1.    Timbangan bayi untuk memantau perkembangan bayi, yang diletakkan di luar kamar
Timbangan bayi ini sengaja diletakkan di luar kamar (terpusat di satu tempat), fungsinya untuk memantau perkembangan bayi dalam hal minum susunya apakah normal atau tidak. Setiap tiga jam, yaitu pukul 10, 13, 16, dst merupakan jadwal minum si bayi, baik ASI maupun susu formula. Jika yang dipergunakan susu formula, maka tinggal ditulis berapa ml susu yang bisa dihabiskan si bayi. Sedangkan kalau pake ASI, kita ‘kan gak tahu jumlah ml ASI yang diminum si bayi, maka sebelum dan sesudah minum ASI si bayi ditimbang berat badannya. Selisih berat badan sebelum dan sesudah minum ASI-lah yang jadi patokannya :). (Wah, kalo di sinetron Indonesia, data kayak gini bisa dengan mudah dimanipulasi tuh ma peran antagonis *korban sinetron >,<)
Timbangan bayi yang diletakkan di luar kamar
2.    Setelah makan, nampan berisi piring dan gelas kosong diletakkan di luar kamar
Berprinsip kemandirian, setiap ibu yang sudah selesai makan, nampan berisi piring, sendok, dan gelas yang sudah tidak dipakai diletakkan sendiri ke rak khusus di luar kamar (buat kegiatan si ibu juga selain di dalam kamar bisa jalan-jalan bentar ke luar kamar :D)
Rak tempat meletakkan nampan berisi piring, gelas yang sudah tidak dipakai

3.    Kasur lipat/ futon (baca futong)
Bagi penjaga si ibu / additional person atau keluarga yang nginep menemani si ibu disediakan futon alias kasur lipat (kayak di film Doraemon, si dora tidur di dalem lemari) yang diletakkan di dalam lemari, jadi kalau mau dipakai tinggal digelar di karpet kamar.
Futon yang diletakkan di dalam lemari
4.    Dinner spesial bareng suami
Di hari terakhir sebelum si ibu pulang ke rumah disediakan dinner spesial bareng suami yang bisa dibilang jatahnya bukan cuma buat dua orang tapi mungkin bisa buat tiga sampai empat orang (banyak banget makanannya >,< yang penting saya dapet jatah :p)
Menu dinner yang cukup buanyak
5.    Foto keluarga
Pihak rumah sakit juga menyediakan foto keluarga sekaligus pemberian album lucu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Wisata Sejarah ke 'Futagawa Shuku Honjin Museum'

Udah lama banget gak berwisata sejarah nih. Mumpung lagi di Jepang gak ada salahnya ‘kan wisata sejarah sejenak :D. Padahal kalau di Indonesia wisata ke tempat bersejarah biasanya buat foto-foto doank, tapi ya ini tetep ada foto-fotonya :p, sekalian belajar sejarah deh :D.
Jika para pembaca yang budiman sedang berada di Negara Jepang, khususnya di Kota Toyohashi, Prefektur Aichi, gak ada salahnya untuk mampir ke tempat ini. Tempat ini bernama Toyohashi City รจ Futagawa Shuku Honjin Museum. Tiket masuk dewasa seharga 400¥, sedangkan untuk student cukup bayar 100¥ saja. Sejarah museum ini kurang lebih seperti ini: Selama Zaman Edo (disebut juga awal zaman modern di Jepang), Tokaido merupakan rute terpenting yang menghubungkan antara Kyoto-Osaka. Baik orang, barang dagangan, maupun informasi melewati rute ini. Terdapat sekitar 53 stasiun peristirahatan sepanjang rute Tokaido, nah Futugawa Shuku merupakan stasiun peristirahatan ke-33 sepanjang rute ini. Di tempat ini, kita bisa menikmati pengalaman perjalanan di zaman Edo dengan mengunjungi Honjin (tempat tinggal raja) dan Hatagoya (tempat tinggal orang biasa).
Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, di museum ini terdapat dua macam tempat tinggal, yang bernama Futagawa Shuku Honjin untuk para bangsawan dan Hatagoya “Seimeiya” untuk warga biasa. Dari 53 original Honjin, hanya tinggal dua yang tersisa, salah satunya adalah Futagawa Shuku Honjin ini. Sedangkan Hatagoya “Seimeiya” terletak di sebelah timur Honjin. Di tempat ini kita bisa melihat rumah jepang yang masih ‘asli’, berbagai macam peralatan dapur yang digunakan, sumur, dsb. kita juga bisa menikmati Matcha (teh hijau tradisional Jepang), dan yang paling menarik perhatian saya adalah kita bisa memakai pakaian tradisonal Jepang kimono maupun yukata secara gratis :D.

Sekilas tentang Futagawa Shuku Honjin dan Hatagoya “Seimeiya”

Beberapa peralatan dapur yang digunakan selama Zaman Edo

Untuk mencicipi matcha alias green tea-nya plus ‘sweet’ alias cemilan yang manis-manis karena untuk mengimbangi rasa si matcha yang super pahit (kalau saya pertama kali nyeruput malah berasa amis >,<), tiap orang wajib membayar 300¥, namun tidak setiap hari lho kita bisa menikmati upacara minum teh ini, karena hanya hari-hari tertentu saja seperti hari Sabtu, Minggu, dan hari libur (termasuk hari libur pengganti) pukul 10.30-16.00 saja kita bisa menikmatinya. Kalau upacara minum teh beneran sih ribet, dari cara duduknya yang harus tegak dan menduduki kedua kaki, seperti foto di bawah ini *tapi waktu itu gak ada upacara minum teh beneran*:

Atas: ibu-ibu yang bawain seperangkat matcha & sweet’, kiri bawah: cara meminum matcha duduk dengan tegak sambil menegak mangkok, kanan bawah: si ‘sweet’ berupa semacam mochi  

Yang paling menarik adalah saat kita bisa mencoba kimono atau yukata, saya dan kakak saya lebih memilih kimono karena jaraaannnggg banget bisa pake kimono gretongan :p, coz biasanya kimono digunakan untuk acara-acara tertentu yang biaya sewanya bisa mencapai jutaan rupiah tergantung dari corak, warna, maupun keperluan pemakaiannya. Perbedaan yukata dan kimono terletak dari banyaknya lapisan kain. Yukata hanya terdiri dari satu lapis kain, sedangkan kimono bisa berlapis-lapis antara 5 sampai 7 lapis. Selain itu pemakaian kimono juga lebih ribet (bahkan ibu-ibu yang mbantu pake kimono ampe kepanasan sendiri :p). Yang jelas, setelah kita “minjem’ kimono buat dipakai, kita bisa muter-muter seluruh area museum dengan memakai kimono tersebut sambil foto-foto di tiap spot yang unik dan oke punya :).
Berbagai macam yukata dan seperangkat aksesoris kimono maupun yukata

Pakai kimono dibantuin ibu-ibu yang malah kepanasan sendiri waktu makein :p 

 
Berfoto di berbagai macam spot museum

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

"Mengintip" Kehidupan Jepang #3: Tentang Rumah & Apartemen

Di tulisan kali ini, saya ingin berbagi cerita tentang tempat tinggal di Jepang.  Ketika saya berada di Jepang (Toyohashi, Prefektur Aichi), saya menginap di apartemen tempat kakak saya tinggal. Di daerah sekitar, hampir di tiap blok perumahan pasti terdapat apartemen. Memang kebanyakan warga Jepang maupun pendatang tinggal di apartemen. Ya walaupun tidak sedikit juga yang tinggal di rumah. Berikut beberapa hal yang pada umumnya ada baik di apartemen maupun rumah di jepang antara lain sebagai berikut:
1.    Tatami
Kebanyakan rumah-rumah maupun apartemen di Jepang menggunakan tatami sebagai pengganti lantai. Tatami terbuat dari jerami yang sudah ditenun, hampir mirip dengan tikar namun tatami memiliki volume yang lebih besar. Keuntungan penggunaan tatami dibandingkan dengan lantai keramik antara lain apabila saat musim panas maupun dingin (summer or winter) dengan kondisi yang ekstrim, telapak kaki sang pemilik rumah masih terasa hangat dan tidak terlalu dingin saat musim dingin atau pun berkeringat saat musim panas tiba. Selain itu tatami mudah dibersihkan dengan vacuum cleaner (penggunaan vacuum cleaner cukup umum di apartemen Jepang) dan tidak perlu di-pel :).
Tatami

2.    Pemanas ruangan maupun water heater
Karena Negara Jepang merupakan salah satu negara empat musim yang memiliki kondisi yang terkadang ekstrim di tiap musimnya, maka hampir dipastikan setiap rumah maupun apartemen pasti memiliki pemanas ruangan maupun water heater.
Water heater

3.    Mesin cuci
Masih sama karena alasan musim, hampir di setiap rumah maupun apartemen pasti memiliki mesin cuci (yakali ada orang mau cuci manual waktu musim dingin :P). Oh iya, apabila kita ingin tahu apakah suatu apartemen ditempati seseorang atau tidak, bisa kita lihat dari mesin cucinya ada atau tidak, karena biasanya mesin cuci diletakkan di depan dekat pintu apartemen (tapi biasanya di apartemen kecil sih hehehe)
Mesin cuci bisa jadi salah satu penanda suatu apartemen ditempati atau tidak

4.    Exhaust fan
Exhaust fan berfungsi sebagai sirkulasi udara antara udara di dalam dan di luar ruangan. Exhaust fan biasanya terdapat di dapur (sangat bermanfaat ketika sedang masak :D).
Exhaust fan

5.    Pembuangan sampah
Baik di rumah maupun apartemen, baik sampah plastik, sampah basah, maupun botol/ kaleng sudah dipisahkan sendiri-sendiri oleh sang pemilik rumah/ apartemen. Hal ini salah satunya untuk memudahkan dalam recycling sampah-sampah tersebut, selain itu juga karena sudah ada hari khusus untuk membuang tiap masing-masing sampah. Seperti di daerah apartemen tempat kakak saya tinggal, pembuangan sampah basah setiap hari senin dan kamis. Sampah plastik dan botol setiap hari rabu.
Sampah-sampah yang siap diangkut oleh truk sampah

Itulah tadi beberapa hal yang saya amati selama tinggal beberapa waktu di Jepang. Semoga bisa menambah informasi Anda sekalian :). Oh iya, kemungkinan tidak semua daerah/ kota di Jepang sama persis seperti ini lhoo, ini cerita saya di Kota Toyohashi, Prefektur Aichi, Jepang :D

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Makan Sushi Asli Negeri Sakura

Masih kulineran seputar Jepang nih :D. Untuk jenis makanan satu ini pasti sudah tidak asing lagi di telinga kita, yaa sushi. Akhir-akhir ini memang banyak tempat makan di Indonesia yang menawarkan menu spesial asal Negeri Sakura ini, dari restoran mahal sampai warung kaki lima pun ada. Berbagai macam harga juga banyak ditawarkan. Untuk restoran mahal biasanya bermain dengan harga, namun cita rasanya sesuai dengan harga yang ditawarkan (ono rego ono rupo) dan umumnya “penampakan” sushi-nya hampir sama dengan negara asalnya. Sedangkan sushi yang dijual di warung kaki lima tentunya memiliki harga yang lebih bersahabat dengan kantong namun rasanya juga gak kalah enak, ya walaupun terkadang “penampakan”-nya tidak 100% sama dengan aslinya (banyak modifikasi) karena pada umumnya sushi di Indonesia tentunya sudah disesuaikan dengan “lidah orang Indonesia”. Oke, cukup untuk pendahuluan. Kali ini, saya mau kulineran sushi di negara asalnya, ya Negara Jepang :).
Kebanyakan restoran sushi di Jepang menyajikan sushi dalam piring-piring kecil (biasanya berisi dua buah sushi) yang diletakkan berjalan bebas di tempat berjalan/ semacam kereta otomatis (haduh susah ngomongnya hehe). Jadi selama piring-piring sushi berjalan, konsumen bisa memilih sushi yang diinginkan, tinggal “comot” aja :D. Namun, jika sushi dengan neta/ lauk yang diinginkan tak kunjung datang, konsumen bisa memesan langsung melalui layar lcd yang ada di tiap meja. Dan biasanya sushi yang dipesan akan diantarkan langsung ke depan meja sang konsumen dengan menggunakan miniatur kereta shinkansen, yuhuuu bisa langsung dimakan tuh.
Piring-piring sushi berjalan
Layar lcd tempat memesan sushi
Miniatur kereta shinkansen pembawa sushi pesana

Kalau bisa dibilang “sushi asli” menurut saya ya sushi dengan neta (lauk) berupa ikan/ daging mentah. Karena rasa keingintahuan yang tinggi, namun tidak diimbangi dengan kesadaran diri bahwa lidah saya asli lidah Indonesia, jadinya ya saya tetep kepengin nyobain sushi dengan neta mentah (*loh). Ketika piring-piring sushi lewat, piring pertama yang saya ambil adalah sushi cumi mentah. Jreng-jreng, liat pertama kali bentuknya masih segar gitu, dan yang jelas kenyel-kenyel. Langsung deh saya lahap, HAP, daaannn....kalau dibilang rasanya biasa aja, kalau diibaratkan makan makanan ini seperti kita lagi motong daging ayam/ sapi mentah yang mau dimasak menggunakan pisau รจ ALOTTT!!! Huaaaa... ya sudah risiko saya mengambil makanan ini ya harus dihabiskan, untung cuma dua biji hihihi. Karena kapok makan yang mentah, akhirnya untuk piring-piring selanjutnya saya lebih memilih sushi dengan neta serba goreng saja. Saya nyobain udang goreng dan cumi (kalau gak salah :p). Kalau secara keseluruhan emang bumbunya kurang (kurang asin) saya bilang, tapi sepertinya memang hampir semua restoran sushi di Jepang menyajikan sushi dengan rasa yang sedikit “hambar”, karena makan sushi biasanya dengan cara “dicocol” atau dicelup di kecap asin yang disebut shoyu. Jadi kalau mau makan sushi yang nikmat, jangan lupa “dicocolin” ke shoyu :D.
Untuk masalah harga, satu piring sushi bisa dibanderol seharga 100¥-an ke atas, bergantung jenis lauk/ neta yang dipesan. Dan biasanya untuk melihat perbedaan harga dari masing-masing lauk adalah dengan melihat warna dan jenis piring yang digunakan. Misalnya saja semua sushi dengan warna piring kuning, harganya sama. Berbeda dengan sushi dengan piring berwarna merah, tergantung kita deh mau pilih sushi yang mana. Orang Jepang sendiri pada umumnya bisa menghabiskan ±8-10 piring sushi untuk sekali makan (saya lihat langsung orang-orang sekitar), tapi kalau saya cukup 5 piring saja sudah kenyang :9. Nah, ketika sudah selesai makan, kita tinggal pencet tombol yang ada di meja tiap konsumen lalu waiter/s akan segera datang ke meja kita dan menghitung banyaknya piring yang kita habiskan disesuaikan dengan warna dan jenis piring sushi tentunya. Lalu tinggal bayar deh ke kasirnya :D.  
Sushi dengan berbagai macam neta/ lauk
Piring-piring sushi yang kosong

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Mencicipi Kenyalnya Udon

Yak, postingan kali ini masih seputar kuliner jepang (kayaknya bulan Juni dipenuhi postingan seputar jalan-jalan ‘n makan-makan nih, yihaaa seneng-seneng deh kita di bulan Juni :D :D). Ok, back to the topic @,@. Makan-makan kuliner jepang kali ini saya nyobain udon. Udon ini masih temenan sama soba di postingan yang lalu, yaitu sejenis mie yang terbuat dari tepung terigu-sama seperti mie-mie pada umumnya, namun bedanya udon ini memiliki ukuran yang super duper tebal (lebay dikit :p). Ketebalan udon pun rupanya memiliki standar tertentu lhoo, seperti yang saya kutip dari wikipedia: “Sesuai standar JAS, udon berbentuk bulat seperti pipa harus berdiameter di atas 1,7 mm, sedangkan udon berbentuk pipih harus memiliki lebar di atas 1,7 mm”. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat ketebalan udon di bawah ini:
Fokus ke ukuran udonnya ya, jangan cewek cilik unyu dibelakangnya yang sadar kamera XD
Nah, waktu itu kami makan udon di restoran suatu pusat perbelanjaan di dekat stasiun Toyohashi. Tipe restorannya pesan di depan, bayar, baru makan. Untuk makan udon ini biasanya ditemani dengan gorengan-gorengan berbagai macam makanan laut seperti ikan, cumi, gurita, dsb, serta berbagai macam daging-dagingan. Oke karena kami datang berbondong-bondong (halah super lebay, cuma 6 orang aja kok, 3 orang bocah ‘n 3 orang dewasa hehehe), jadinya kami mengambil gorengannya cukup banyak (ikan dibuat semacam tempura, gurita, dll-LUPA :p). Oh iya untuk 1 mangkok* udon dihargai 105¥, sedangkan harga gorengan berkisar antara 120-130¥ (baru kali ini tau ada harga gorengan lebih mahal dari harga makanan utama :O-yaeyalah gorengannya aja seafood, bukan tahu-tempe :p)   
 1 porsi udon
Gorengan (gurita & semacam tempura)
                                
Oke deh, langsung icip-icip. Kalau untuk udonnya, kenyal banget (mungkin karena pengaruh ukurannya yang tebel juga kali yaa..), kuahnya kalau dimakan barengan sama udonnya jadi kurang berasa (kurang asin), padahal kuah yang dipakai sama dengan kuah yang dipakai dalam soba mie (bisa jadi pengaruh orang yang masak beda) . Kalau gorengannya agak kurang asin juga, malah cenderung agak manis (campuran manis-gurih gitu deh). Kalau kebanyakan makan gorengan ini saya jadi eneg hehehe. Jadi emang pas kalau dimakan barengan sama udonnya, rasa manis-gurihnya si gorengan dicampur sama rasa dari udonnya jadi rame rasanya (nano-nano donk rasanya manis-asam-asin, rame rasanya, *malah ngiklan -___-). Yah, kalau dinilai makanan ini not bad-lah buat dicobain :D (selera juga sih, gue kan bukan Pak Bondan yang jago menilai makanan hohohoho).
Yang saya underline dari restoran ini (hampir sama di beberapa restoran Jepang) adalah setiap selesai makan, kita membersihkan sendiri meja yang telah kita pakai dan mengembalikan nampan berisi mangkok dan gelas kosong ke tempat yang sudah disediakan. Jadi sebelum dan sesudah makan meja tetap bersih :D.
Mariii makan :9
Satu paket udon+gorengan

*perhatian: hati-hati mengucapkan kata “mangkok” di negara ini, karena kalau salah bilang “mangkuk” bisa dikira alat kelamin wanita (FYI aja :D) 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...